BANYU POS NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026).
Pelemahan Wall Street dipicu aksi jual saham-saham semikonduktor di tengah sikap hati-hati investor yang menanti laporan keuangan emiten teknologi raksasa, seperti Alphabet dan Tesla, yang dinilai akan menjadi penentu keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.
“Pasar kini memilih menunggu sebelum menentukan apakah reli AI masih berlanjut atau mulai kehilangan tenaga,” ujar Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall.
Wall Street Rebound, Saham Teknologi Pulih tapi Dibayangi Kekhawatiran Belanja AI
Pada pembukaan perdagangan, indeks S&P 500 turun 11,7 poin atau 0,16% ke level 7.497,47. Nasdaq Composite terkoreksi 143,5 poin atau 0,56% menjadi 25.693,72, sementara Dow Jones Industrial Average justru menguat tipis 62,5 poin atau 0,12% ke 52.287,14.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada laporan kinerja kuartal II-2026 dari Alphabet dan Tesla, dua anggota kelompok Magnificent Seven yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar.
Hasil keduanya dinilai akan menjadi indikator apakah investasi bernilai miliaran dolar di bidang AI mulai menghasilkan pertumbuhan yang sepadan.
Alphabet menjadi sorotan lebih besar setelah peluncuran model AI andalannya mengalami penundaan, memunculkan kekhawatiran terhadap laju pengembangan teknologinya.
Meski demikian, saham Alphabet masih naik tipis 0,3% pada perdagangan prapasar.
Wall Street Anjlok, Penurunan Saham Teknologi Semakin Dalam Akibat Kekhawatiran AI
Selain laba perusahaan, investor juga mencermati besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) yang akan diumumkan kedua perusahaan.
Angka tersebut dipandang sebagai petunjuk mengenai agresivitas investasi AI ke depan sekaligus prospek pertumbuhan sektor teknologi.
Tekanan juga datang dari sektor semikonduktor. Saham Texas Instruments turun 1,6% menjelang rilis laporan keuangan, sementara iShares Semiconductor ETF merosot 2,8%, mencerminkan melemahnya sentimen terhadap saham-saham chip yang selama ini menjadi motor utama reli pasar.
Di luar musim laporan keuangan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membebani sentimen.
Ancaman terhadap jalur pelayaran dari kelompok Houthi yang didukung Iran serta meluasnya konflik mendorong harga minyak naik mendekati level tertinggi dalam enam pekan.
Kondisi ini menambah tantangan bagi bank sentral dalam mengendalikan inflasi.
Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026.
Wall Street Naik Didukung Rebound Saham Teknologi, Investor Menanti Data Ekonomi AS
Meski demikian, risiko kenaikan suku bunga dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang lebih dari 70% bahwa The Fed akan kembali menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Di perdagangan prapasar, saham AT&T melesat 4,8% setelah mencatat penambahan pelanggan layanan nirkabel yang melampaui ekspektasi pada kuartal II.
Sementara itu, Super Micro Computer melonjak 12,3% setelah produsen server AI tersebut mengumumkan telah mengantongi pesanan baru lebih dari US$ 60 miliar untuk kuartal IV serta menaikkan proyeksi margin labanya.




