BANYU POS JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih berada di level tinggi akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan seiring eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuka peluang kenaikan harga lebih lanjut, sehingga dapat berpotensi membebani rupiah dan fiskal domestik.
Melansir Trading Economics pada Selasa (15/9/2026) pukul 12.18 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 103,5 per barel atau naik 1,8% sehari dan melonjak 10,9% sepekan. Kemudian minyak Brent dihargai US$ 107,4 per barel, naik 1,6% secara harian dan 9,7% sepekan.
Saham Bayan Resources (BYAN) Anjlok Setelah Mengumumkan Force Majeure
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga minyak saat ini terutama dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, baik akibat terganggunya jalur pelayaran maupun infrastruktur minyak di kawasan Timur Tengah.
Dengan harga minyak mentah di level tersebut, Lukman memandang masih terdapat ruang penguatan apabila gangguan pasokan berlanjut.
“Masih ada ruang kenaikan apabila gangguan pasokan berlanjut, bahkan Brent berpotensi menguji US$ 110-US$ 120,” kata Lukman kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Namun, kenaikan tersebut juga membuat risiko koreksi semakin besar. Menurut Lukman, apabila ketegangan geopolitik mereda dan pasokan minyak kembali normal, harga berpotensi turun cukup cepat.
Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.691 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (15/9), Asia Turun
Pasalnya, level harga minyak di atas US$ 100 per barel saat ini sudah mencerminkan risk premium yang cukup besar.
Selain geopolitik, pasar minyak juga akan mencermati keputusan Federal Reserve dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Lukman mengatakan, pasar telah mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Dengan demikian, dampak terhadap harga minyak akan lebih banyak ditentukan oleh panduan atau guidance The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya.
“Jika The Fed memberikan sinyal hawkish dan membuka peluang kenaikan lanjutan, dolar AS berpotensi menguat dan menekan harga minyak melalui pelemahan permintaan global,” jelasnya.
Sebaliknya, apabila kenaikan 25 bps disertai sinyal bahwa pengetatan hanya bersifat sementara, tekanan terhadap harga minyak akan lebih terbatas. Meski begitu, Lukman menilai faktor geopolitik dan risiko gangguan pasokan masih menjadi katalis utama pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Lanjutkan Penguatan, Cek Profil Saham SEMA, Lini Bisnis, dan Kinerja Terbarunya
Hingga akhir 2026, Lukman memperkirakan harga Brent berada di kisaran US$ 95-US$ 110 per barel, sedangkan WTI berada di rentang US$ 90-US$ 105 per barel.
Tapi, Risiko kenaikan di atas proyeksi tersebut tetap terbuka apabila gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan. Sebaliknya, perbaikan situasi geopolitik dan normalisasi pasokan dapat memicu koreksi harga yang cukup cepat.
Bagi Indonesia yang merupakan negara net importer minyak, kenaikan harga minyak global cenderung memberikan dampak negatif terhadap perekonomian.
Lukman mengatakan, harga minyak yang tinggi akan meningkatkan biaya impor dan berpotensi menekan neraca perdagangan serta transaksi berjalan. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Di sisi inflasi, kenaikan harga minyak dapat merembet melalui harga bahan bakar minyak (BBM), transportasi, hingga biaya produksi. Tak hanya itu, dari sisi fiskal, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi pemerintah.




