Wall Street kembali rontok jelang keputusan The Fed, yield Treasury AS tembus 5%

Hikma Lia

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Selasa (15/9). Investor mencermati keputusan kebijakan moneter The Fed yang akan diumumkan pekan ini, di tengah lonjakan yield obligasi pemerintah AS atau Treasury ke level tertinggi sejak 2007.

Advertisements

Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63% menjadi 52.093,11. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 0,45% ke 7.585,73 dan Nasdaq Composite turun 0,78% ke 25.981,57.

Global Head of Investment Decision Research SimCorp Melissa Brown mengatakan investor mulai memperhitungkan sejumlah risiko yang menekan pasar.

Advertisements

“Investor akhirnya mulai mengejar ketertinggalan terhadap berbagai kekhawatiran tersebut,” kata Brown, dikutip dari CNBC, Rabu (16/9).

Baca juga:

  • Anak Usaha Adhi Karya (ADCP) Bakal Diaudit atas Mangkraknya Proyek LRT City
  • IHSG Berpotensi Turun Lagi, Saham KLBF, MDKA dan MAPI Masuk Rekomendasi Analis
  • LRT City Masih Mangkrak, Pemerintah Kini Siapkan Apartemen di 12 Titik TOD

Menurut Brown, selain utang pemerintah AS yang telah menembus US$ 40 triliun dan inflasi yang masih sulit turun, kenaikan harga minyak hingga di atas US$ 100 per barel turut meningkatkan kekhawatiran investor.

Pada Selasa, yield Treasury AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan sempat naik ke level tertinggi sejak 2007, yakni 5,041%. Yield kemudian turun dari level tersebut dan terakhir tercatat naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5%.

Kenaikan yield obligasi global menjadi perhatian pasar saham dalam beberapa pekan terakhir. Aksi jual obligasi pemerintah terjadi di tengah kekhawatiran bahwa perang AS-Iran yang masih berlangsung dapat mendorong inflasi dan membuat bank-bank sentral mengambil kebijakan yang lebih hawkish.

Selain yield Treasury, harga minyak juga menjadi perhatian investor. Harga minyak kembali naik setelah Arab Saudi menutup pipa minyak utama yang melewati Selat Hormuz.

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik hampir 3% menjadi US$ 108,75 per barel. Sementara itu, kontrak WTI menguat lebih dari 4% ke US$ 105,83 per barel.

Perdagangan kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan probabilitas lebih dari 94% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari kisaran target saat ini 3,5%-3,75%. Keputusan tersebut berpotensi berdampak terhadap perekonomian global.

“Pasar setidaknya menginginkan sedikit panduan agar mereka bisa memahami arah kebijakan ke depan,” ujar Brown.

Brown mengatakan pasar akan mencermati sinyal The Fed mengenai inflasi dan arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

“Saya pikir jika Warsh mengatakan, ‘Kami masih mengkhawatirkan inflasi dan akan bertindak sesuai dengan kondisi tersebut,’ itu akan baik-baik saja. Kekhawatirannya adalah jika dia tidak mengatakan apa-apa,” katanya.

Ahli strategi Barclays mengatakan kenaikan suku bunga telah menekan valuasi saham dan semakin meningkatkan risiko terhadap portofolio ekuitas.

Advertisements

Also Read

Tags