BANYU POS JAKARTA. PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tengah mengubah arah bisnis dengan beralih dari perusahaan interior rumah menjadi operator data center berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Etta Rusdiana Putra dalam riset 14 September 2026 mengatakan, MGLV berencana membangun kapasitas data center sekitar 102 megawatt (MW) di Batang, Jawa Tengah dan Jababeka, Jawa Barat. MGLV juga akan membangun gardu induk atau substation berkapasitas total 200 megavolt ampere (MVA) yang akan dimiliki sendiri.
“MGLV tengah beralih menjadi operator pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia,” tulis Etta dalam riset tersebut.
Saham Global Menguat, Yield US Treasury Turun Jelang Keputusan The Fed
Menurut Etta, MGLV menargetkan EBITDA steady-state sebesar US$ 1 juta per MW. Dengan asumsi tingkat utilisasi 100%, angka tersebut mengimplikasikan tarif bulanan sekitar US$ 83 per kilowatt-hour (kWh).
Namun, dalam pertemuan dengan manajemen, tidak ada informasi keuangan lebih lanjut yang diungkapkan.
Etta menjelaskan, MGLV memanfaatkan pertumbuhan permintaan data center yang berkaitan dengan AI dengan memulai ekspansi melalui akuisisi NAC (Nextier Askara Center), fasilitas data center berkapasitas 6 MW di Jababeka yang menjadi Phase 1.
Selanjutnya, MGLV berencana mengembangkan data center greenfield berkapasitas 60 MW di Batang. Perusahaan ini juga menyiapkan data center brownfield berkapasitas 36 MW di Jababeka, Karawang, Jawa Barat, sebagai Phase 2 yang akan ditempatkan dalam bangunan tiga lantai.
Dengan rencana tersebut, total kapasitas data center yang dibidik MGLV di Pulau Jawa mencapai sekitar 102 MW.
“MGLV merupakan penyedia infrastruktur pusat data dengan standar minimum Tier III yang menawarkan layanan daya listrik, pendinginan cair (liquid cooling), dan layanan gedung,” jelas Etta.
Untuk kebutuhan lahan, manajemen MGLV menyebutkan patokan sekitar satu hektare untuk setiap kapasitas 10 MW. Sementara untuk konektivitas kabel, Indosat melalui Zankore akan membangun jaringan serat optik atau fiber link menuju lokasi data center MGLV.
Perusahaan ini juga membuka peluang untuk melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa apabila permintaan telah terbentuk.
MGLV memilih Jawa sebagai lokasi utama data center karena dapat memanfaatkan pasokan listrik yang berlebih atau surplus di wilayah tersebut.
Dolar Bertahan di Level Tertinggi Dua Pekan Jelang Keputusan The Fed
Untuk menopang kebutuhan listrik proyek, perusahaan ini membangun substation berkapasitas 200 MVA di Batang dan Karawang. Infrastruktur tersebut diharapkan turut mempercepat penyelesaian proyek data center.
Selain itu, MGLV memanfaatkan konstruksi modular impor dengan waktu tunggu atau lead time sekitar empat bulan. Strategi tersebut digunakan untuk mempercepat pembangunan fasilitas data center.
Etta mencatat, data center dikenakan tarif listrik golongan bangunan sekitar Rp 1.700 per kWh. Tarif tersebut lebih tinggi dibandingkan tarif listrik untuk sektor industri yang berada di kisaran Rp 1.000 per kWh.
Dari sisi model bisnis, MGLV mengandalkan kontrak business-to-business (B2B) dengan pembayaran secara bulanan. Indosat melalui Zankore disebut menjadi penyewa atau tenant utama.
Manajemen MGLV juga membandingkan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) data center di Amerika Serikat yang berada di sekitar US$ 10 juta per MW. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kebutuhan capex sekitar US$ 40 juta per MW untuk infrastruktur NeoCloud.
Menurut manajemen, permintaan layanan AI saat ini terutama masih berasal dari kebutuhan pelatihan model atau model training. Namun, kebutuhan inference diperkirakan akan meningkat seiring waktu.
Sementara itu, terkait risiko kemungkinan Amerika Serikat melarang penyewaan server GPU kepada China, manajemen MGLV menilai pembatasan tersebut tidak akan berlaku secara retrospektif.
Sehingga kontrak yang sudah berjalan diperkirakan tetap dapat dipenuhi, sementara larangan, jika diberlakukan, akan berlaku untuk kontrak baru. Atas pertimbangan tersebut, manajemen MGLV masih optimistis terhadap prospek bisnis perseroan.
Atas saham MGLV, Etta tidak memberi rekomendasi. Dia mengaku memilih tiga saham telekomunikasi yang lain seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Ketiga saham tersebut direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.400 untuk TLKM, Rp 3.000 per saham untuk ISAT dan Rp 3.600 untuk saham EXCL.
Menakar Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Pergerakan IHSG




