Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis data perkembangan indeks harga konsumen untuk periode September 2026. Dalam laporan terbaru tersebut, BPS mengungkapkan adanya kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras yang menjadi salah satu faktor utama pendorong laju inflasi pada bulan tersebut. Fenomena kenaikan harga ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan dipicu oleh kombinasi beberapa faktor penting, termasuk peningkatan permintaan domestik serta kenaikan biaya produksi di tingkat peternak.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pergerakan harga daging ayam ras menjadi salah satu peristiwa ekonomi krusial yang memberikan pengaruh signifikan terhadap indikator harga sepanjang September 2026. Berdasarkan hasil pemantauan di berbagai wilayah, kenaikan harga komoditas hewani ini didorong oleh dua faktor utama yang saling memengaruhi. Faktor pertama adalah melonjaknya kebutuhan masyarakat untuk mendukung implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di beberapa daerah. Faktor kedua berasal dari sisi hulu, yaitu adanya kenaikan harga pakan ternak yang secara langsung meningkatkan biaya operasional para peternak ayam pedaging.
Pemicu Kenaikan Harga Daging Ayam Ras dan Dampaknya terhadap Inflasi
Interaksi antara peningkatan permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kenaikan harga pakan ternak menciptakan tekanan tersendiri pada rantai pasok daging ayam ras. Ketika permintaan pasar melonjak secara mendadak di beberapa daerah untuk memenuhi kebutuhan program gizi pemerintah tersebut, ketersediaan pasokan di pasar mengalami pengetatan. Kondisi ini diperparah oleh beban biaya pakan ternak yang terus merangkak naik, memaksa para produsen untuk menyesuaikan harga jual di tingkat konsumen agar dapat mempertahankan margin kelangsungan usaha mereka. Kenaikan harga daging ayam ras ini akhirnya tercermin secara nyata dalam angka inflasi September 2026, di mana komoditas ini memberikan andil inflasi sebesar 0,05% secara bulanan (month-to-month/mtm).
Rincian Inflasi Bulanan September 2026
Secara agregat, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa inflasi nasional pada September 2026 berada di angka 0,30% secara bulanan (mtm). Jika ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali memegang posisi sebagai penyumbang utama terhadap laju inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi yang cukup tinggi, yakni sebesar 0,88%, dan memberikan andil yang sangat dominan terhadap inflasi umum sebesar 0,26%. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga barang kebutuhan pokok masih menjadi motor penggerak utama dalam pergerakan indeks harga konsumen di dalam negeri.
Selain daging ayam ras yang menjadi sorotan utama, terdapat sejumlah komoditas pangan penting lainnya yang turut memberikan tekanan inflasi pada September 2026. Berdasarkan data BPS, komoditas-komoditas tersebut meliputi:
- Cabai rawit: memberikan andil inflasi sebesar 0,08%
- Cabai merah: memberikan andil inflasi sebesar 0,06%
- Beras: memberikan andil inflasi sebesar 0,03%
- Telur ayam ras: memberikan andil inflasi sebesar 0,02%
- Ikan segar: memberikan andil inflasi sebesar 0,01%
- Kangkung: memberikan andil inflasi sebesar 0,01%
Kehadiran berbagai komoditas hortikultura dan pangan pokok dalam daftar penyumbang inflasi ini menegaskan bahwa stabilitas harga pangan di tingkat eceran masih menghadapi tantangan yang cukup besar, baik dari sisi kelancaran distribusi maupun faktor musiman yang memengaruhi hasil panen petani.
Tekanan dari Komponen Harga Bergejolak (Volatile Food)
Ateng Hartono memaparkan lebih lanjut bahwa kenaikan harga daging ayam ras dan komoditas pangan hortikultura tersebut merupakan bagian dari tekanan yang terjadi pada komponen harga bergejolak atau dikenal dengan istilah volatile food. Pada September 2026, komponen harga bergejolak ini mengalami inflasi yang cukup signifikan, yaitu sebesar 1,46% secara bulanan. Dengan angka tersebut, komponen ini memberikan andil terbesar terhadap pembentukan inflasi umum September, yakni mencapai 0,24%. Karakteristik dari komponen ini yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, pola panen, dan gangguan distribusi menjadikannya sebagai fokus perhatian utama pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.
Analisis Inflasi Pangan dalam Perspektif Tahunan
Apabila dianalisis dalam skala tahunan (year-on-year/yoy), tekanan inflasi yang bersumber dari sektor pangan juga terlihat sangat menonjol. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan angka inflasi tahunan sebesar 4,37% pada September 2026. Kelompok pengeluaran ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap inflasi tahunan nasional, dengan andil mencapai 1,28%. Dalam kelompok ini, daging ayam ras kembali teridentifikasi sebagai salah satu komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi secara tahunan. Tidak sendirian, daging ayam ras bersanding dengan beberapa komoditas penting lainnya seperti ikan segar, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi dalam mendorong kenaikan indeks harga kelompok makanan secara tahunan.
Sementara itu, jika melihat pergerakan komponen harga bergejolak secara tahunan, kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 5,03% dengan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,83%. Komoditas-komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi pada komponen bergejolak ini secara tahunan relatif konsisten, yaitu meliputi daging ayam ras, cabai rawit, beras, serta daging sapi. Konsistensi komoditas-komoditas ini dalam menyumbang inflasi bulanan maupun tahunan mengindikasikan adanya tantangan struktural yang perlu diselesaikan dalam rantai pasok pangan nasional, mulai dari ketersediaan bahan baku pakan, produktivitas pertanian, hingga efisiensi jalur logistik dari produsen ke konsumen akhir.
Pencapaian Inflasi Tahunan dan Tahun Kalender 2026
Secara keseluruhan, kinerja inflasi nasional yang dicatat oleh BPS menunjukkan bahwa inflasi tahunan (yoy) pada September 2026 menyentuh angka 3,28%. Sementara itu, jika dihitung berdasarkan tahun kalender (year-to-date/ytd) dari Januari hingga September 2026, laju inflasi nasional berada pada tingkat 2,17%. Angka-angka ini mencerminkan dinamika perekonomian domestik yang terus bergerak aktif, di mana pengelolaan stabilitas harga barang dan jasa menjadi kunci penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan dan melindungi kesejahteraan masyarakat luas.
Risiko Perubahan Iklim dan Tantangan Harga Pangan ke Depan
Di samping memaparkan data realisasi inflasi yang telah terjadi, Badan Pusat Statistik juga memberikan peringatan dini mengenai adanya berbagai risiko eksternal yang dapat mengganggu stabilitas harga pangan di masa mendatang. Salah satu faktor risiko terbesar yang perlu diantisipasi secara serius adalah kondisi cuaca ekstrem. Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena iklim El Nino yang melanda pada tahun 2026 memiliki potensi kuat untuk bertahan hingga memasuki awal tahun 2027.
Ateng Hartono menekankan bahwa potensi bertahannya fenomena El Nino ini harus mendapatkan perhatian ekstra dari seluruh pemangku kepentingan. Dampak dari El Nino, seperti kekeringan berkepanjangan dan pergeseran musim tanam, berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian dan peternakan secara nasional. Penurunan kapasitas produksi pangan akibat cuaca ekstrem ini dikhawatirkan dapat memicu kelangkaan pasokan di pasar, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga komoditas pangan secara signifikan.
Oleh karena itu, BPS mengingatkan pentingnya langkah-langkah mitigasi yang cepat dan tepat untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar domestik. Pengawasan terhadap ketersediaan stok pangan pokok, optimalisasi jalur distribusi antardaerah, serta pengelolaan kebijakan impor-ekspor yang responsif menjadi instrumen penting yang harus dipersiapkan guna menghadapi dampak lanjutan dari fenomena iklim global ini agar target pengendalian inflasi dapat tetap terjaga dengan baik.




