Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (5/10) pagi. Melansir data Bloomberg, rupiah berada di level 17.904 per dolar AS pada pembukaan hari ini, melemah 22 poin atau sekitar 0,12% dari penutupan pada Jumat (2/10) yang berada di level 17.882 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi berpandangan, pelemahan nilai tukar rupiah kali ini dikarenakan sejumlah faktor, internal dan global. Ia menuturkan, risiko inflasi berpotensi meningkat seiring dengan memanasnya situasi AS-Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, AS akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump juga berencana untuk kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, dikutip pada Senin (5/10).
Di sisi lain, para pejabat The Fed, yang dipimpin Wakil Ketua Philip Jefferson, menyatakan bahwa perekonomian AS berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal, sembari menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga. Sementara itu, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish dengan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Dari sisi internal, Bank Indonesia (BI) memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Ibrahim mengatakan, kebijakan itu membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.
Ia mengatakan, kebijakan itu menjadi bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro–market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA). Menurutnya, perasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.
“Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga. BI Melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya,” kata dia.
Di sisi lain, menurut Ibrahim, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder. Ibrahim memproyeksikan rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750 – 18.050 per dolar AS.
Sementara itu, analis Doo Financial, Lukman Leong menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat lantaran menurunnya harga minyak mentah dunia di tengah rencana perlepasan cadangan oleh negara G7, atau negara ekonomi maju utama di dunia.
“Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi. Range (penguatan rupiah ke level) Rp 17.800-17.850 (per dolar AS),” kata Lukman saat dihubungi, Senin (5/10).




