Asing Lepas GOTO dan Bank Big Caps, Cek Saham Net Sell Terbesar

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir menunjukkan tren penguatan yang tipis namun signifikan, mencerminkan dinamika pasar modal Indonesia yang kompleks. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun melalui RTI Business mengindikasikan bahwa IHSG berhasil ditutup menguat sebesar 1,03% pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, mencapai level 6.093,75. Kinerja positif ini turut menopang performa mingguan IHSG, yang tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,94% dalam periode sepekan penuh. Penguatan ini, meskipun tidak masif, memberikan sinyal positif mengenai ketahanan pasar di tengah berbagai sentimen yang mempengaruhi keputusan investasi.

Advertisements

Pencapaian IHSG yang berhasil menguat dalam sepekan terakhir ini menunjukkan adanya dukungan dari sejumlah faktor, baik internal maupun eksternal, yang mampu menjaga momentum kenaikan. Meskipun demikian, kenaikan yang tergolong tipis juga mengisyaratkan adanya tekanan jual atau kehati-hatian investor dalam mengambil posisi. Level penutupan 6.093,75 pada Jumat tersebut merupakan hasil akumulasi dari pergerakan harian yang fluktuatif, namun pada akhirnya mampu ditutup di zona hijau, memberikan optimisme terbatas bagi para pelaku pasar. Kinerja ini menjadi sorotan utama bagi investor yang senantiasa memantau arah dan tren pasar modal Tanah Air.

Di tengah penguatan IHSG yang terjadi, terdapat fenomena menarik yang patut dicermati, yaitu aktivitas investor asing yang justru mencatatkan aksi jual bersih atau net sell dalam jumlah yang substansial. Dalam periode perdagangan sepekan tersebut, investor asing membukukan net sell mencapai Rp 3,75 triliun di seluruh pasar. Angka ini merepresentasikan sebuah arus keluar modal yang signifikan dari portofolio investasi asing di Indonesia, menciptakan sebuah paradoks di mana indeks pasar mengalami kenaikan sementara kepemilikan asing justru berkurang. Situasi ini mengundang analisis lebih lanjut mengenai kekuatan pendorong IHSG yang berasal dari investor domestik, baik institusi maupun ritel, yang tampaknya mampu menyerap tekanan jual dari pihak asing.

Advertisements

Aksi jual bersih oleh investor asing, terutama dalam skala triliunan rupiah, seringkali menjadi indikator penting bagi sentimen pasar secara keseluruhan. Ketika IHSG menguat namun asing terus melakukan divestasi, hal ini dapat mengindikasikan bahwa penguatan indeks didorong oleh faktor-faktor lain, seperti pembelian oleh investor domestik atau sentimen positif yang bersifat lokal. Fenomena ini juga bisa mencerminkan strategi rebalancing portofolio global oleh investor asing, di mana mereka mengalihkan dana dari pasar Indonesia ke pasar lain yang dianggap memiliki prospek lebih menarik atau risiko yang lebih rendah. Besarnya angka net sell asing sebesar Rp 3,75 triliun ini menunjukkan bahwa keputusan divestasi ini tidak bersifat insidental, melainkan merupakan tren yang cukup dominan dalam periode tersebut.

Salah satu saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dengan nilai jual bersih mencapai Rp 1,45 triliun. Angka ini menempatkan GOTO sebagai saham dengan net sell terbesar oleh asing dalam sepekan. Situasi ini diperparah dengan kondisi saham GOTO yang saat ini berada di bawah level “gocap” atau Rp 50 per saham. Penurunan harga saham GOTO di bawah level psikologis Rp 50 memiliki implikasi serius, tidak hanya bagi perusahaan dan investornya, tetapi juga bagi persepsi pasar secara keseluruhan terhadap saham-saham teknologi dan startup yang baru melantai. Aksi jual asing yang masif di GOTO menunjukkan adanya kekhawatiran atau revisi ekspektasi terhadap kinerja perusahaan di masa mendatang, atau mungkin upaya untuk memangkas kerugian setelah periode penahanan yang panjang. Tekanan jual yang kuat ini turut berkontribusi pada penurunan valuasi GOTO di pasar modal.

Selain GOTO, investor asing juga tercatat banyak melepas saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dari sektor perbankan. Saham-saham perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara historis merupakan tulang punggung IHSG dan seringkali menjadi pilihan utama bagi investor asing karena fundamental yang kuat dan likuiditas yang tinggi. Namun, dalam sepekan terakhir, saham-saham ini masuk dalam daftar net sell terbesar asing. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan net sell sebesar Rp 297,08 miliar, diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan Rp 274,54 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan Rp 240,57 miliar. Penjualan saham-saham perbankan big caps ini dapat diinterpretasikan sebagai aksi ambil untung (profit taking) setelah periode kenaikan harga, atau sebagai respons terhadap perubahan prospek ekonomi makro yang mungkin mempengaruhi sektor keuangan.

Daftar sepuluh saham dengan net sell terbesar oleh investor asing selama sepekan menunjukkan diversifikasi sektor yang terdampak, tidak hanya terkonsentrasi pada sektor teknologi atau perbankan. Berikut adalah rincian saham-saham tersebut beserta nilai net sell-nya:

  1. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 1,45 triliun
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 297,08 miliar
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 274,54 miliar
  4. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 240,57 miliar
  5. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 154,24 miliar
  6. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 134,04 miliar
  7. PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp 119,67 miliar
  8. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 75,85 miliar
  9. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 75,61 miliar
  10. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 62,77 miliar

Dari daftar tersebut, terlihat bahwa selain GOTO dan bank-bank besar, saham-saham dari sektor telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga mengalami tekanan jual asing dengan nilai Rp 154,24 miliar. Sektor pertambangan dan alat berat juga tidak luput dari aksi jual ini, dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan net sell Rp 134,04 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 75,85 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 75,61 miliar. Bahkan, saham dari sektor keuangan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), juga masuk dalam daftar ini dengan net sell Rp 62,77 miliar. Kehadiran PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dengan net sell Rp 119,67 miliar menunjukkan bahwa divestasi asing juga menyentuh saham-saham di luar kelompok big caps yang lebih dikenal luas.

Diversifikasi sektor dalam daftar net sell ini mengindikasikan bahwa investor asing mungkin sedang melakukan penyesuaian portofolio yang lebih luas, bukan hanya fokus pada satu atau dua sektor spesifik. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan dalam alokasi aset global, sentimen risiko terhadap pasar negara berkembang, atau evaluasi ulang terhadap prospek pertumbuhan perusahaan-perusahaan di berbagai sektor di Indonesia. Meskipun IHSG secara agregat menguat, tekanan jual asing yang tersebar di berbagai sektor utama ini memerlukan perhatian khusus dari para pelaku pasar, karena dapat mempengaruhi likuiditas dan stabilitas harga saham-saham tersebut dalam jangka menengah.

Fenomena IHSG yang menguat tipis di tengah arus keluar dana asing yang besar menunjukkan adanya peran dominan dari investor domestik. Investor domestik, baik investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi, maupun investor ritel yang terus bertumbuh, tampaknya menjadi penopang utama pasar modal Indonesia dalam periode ini. Daya beli investor domestik yang kuat mampu menyerap tekanan jual dari asing, sehingga menjaga IHSG tetap berada di jalur positif. Ini mencerminkan kematangan pasar domestik yang semakin meningkat, di mana ketergantungan terhadap investor asing mulai berkurang dibandingkan periode sebelumnya. Namun, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada optimisme investor domestik dan fundamental ekonomi Indonesia.

Secara keseluruhan, kinerja pasar modal Indonesia dalam sepekan terakhir menunjukkan gambaran yang kontradiktif namun informatif. Penguatan IHSG sebesar 0,94% memberikan sinyal ketahanan pasar, sementara aksi net sell asing sebesar Rp 3,75 triliun, terutama pada saham-saham seperti GOTO dan big caps perbankan, mengindikasikan adanya pergeseran sentimen atau strategi portofolio dari investor global. Pergerakan ini akan terus menjadi fokus analisis bagi para investor yang berupaya memahami arah pasar dan membuat keputusan investasi yang tepat di tengah dinamika yang terus berubah. Pemantauan terhadap arus dana asing serta kinerja saham-saham utama akan menjadi krusial untuk mengantisipasi pergerakan pasar selanjutnya.

Advertisements

Also Read

Tags