Laporan dari Bangkok: Danantara jemput investor global, ungkap saham Indonesia lebih murah dari era krisis

Hikma Lia

BANYU POS BANGKOK — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyambut positif pertemuan dengan bank investasi, investor, dan lembaga pemeringkat global seperti Moody’s, Fitch, S&P, IFC, MSCI, hingga JP Morgan dalam diskusi panel Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara di Bangkok, Selasa (13/10/2026). 

Advertisements

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir mengatakan para investor, lembaga pemeringkat, hingga bank investasi bertemu dengan seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan Indonesia seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, dan Danantara dalam forum dinamis ini.

Dia menyebut para pemangku kepentingan global itu mengapresiasi keselarasan pandangan di antara para pemangku kebijakan Indonesia. Menurut dia, kesamaan sikap itu dapat memperkuat keyakinan investor sekaligus membuka ruang pembicaraan mengenai peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Advertisements

”Poin paling pentingnya sekarang komunikasi, mulai lancar. Itu penting. Dan sekarang posture kita [Indonesia] semua satu tim,” ujar Pandu kepada Bisnis di sela-sela Danantara Indonesia Roundtable, salah satu kegiatan pendamping Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).

Pandu meyakini pertemuan tersebut akan berdampak positif bagi Indonesia. Pasalnya, secara paralel sejumlah transformasi keuangan tengah berlangsung termasuk reformasi pasar modal. Selain itu, pasar keuangan Indonesia memiliki peluang menjadi sumber pertumbuhan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

Pasar Modal

Penilaian tersebut didasarkan pada rasio harga saham terhadap laba atau price-to-earnings ratio (PER) pasar saham Indonesia yang saat ini sekitar 9 kali. Valuasi tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan dengan periode pandemi Covid-19 maupun krisis keuangan global 2008.

”Indeks kita ini secara price-to-earning mungkin yang paling murah selama 2 dekade terakhir, 9 kali price-to-earning,” kata Pandu.

Menurut dia, dengan PER sekitar 9 kali, imbal hasil laba atau earnings yield pasar saham Indonesia mencapai sekitar 12 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun yang sekitar 7 persen. Selisih keduanya mencapai hampir 400 basis poin.

Di sisi lain, kinerja fundamental perusahaan-perusahaan Indonesia masih dinilai baik. Pandu menyebutkan, tingkat pengembalian atas ekuitas atau return on equity (ROE) perusahaan berada di kisaran 14–16 persen. Pada sektor konsumer, ROE sejumlah perusahaan bahkan mencapai 30 persen.

Imbal hasil dividen atau dividend yield pasar saham juga berada di kisaran 7,5–8 persen, jauh di atas rata-rata 20 tahun terakhir sebesar 3,3 persen.

Menurut Pandu, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kinerja perusahaan dan persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia. Karena itu, komunikasi yang konsisten antarpemangku kebijakan dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Advertisements

Also Read