Pada hari Jumat, 16 Oktober, investor asing menunjukkan minat beli yang signifikan terhadap saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), mencatatkan nilai beli bersih atau net buy mencapai Rp 288 miliar. Fenomena ini terjadi di tengah gejolak pasar yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam. Meskipun demikian, saham GOTO sendiri pada hari tersebut tercatat mengalami koreksi sebesar 7,41%, mengakhiri perdagangan di level Rp 25 per lembar saham. Pergerakan harga ini menunjukkan dinamika yang kompleks antara sentimen investor asing dan kondisi pasar domestik yang sedang bergejolak.
Data dari Bursa Efek Indonesia mengonfirmasi bahwa saham GOTO menjadi primadona dalam hal volume transaksi. Tercatat lebih dari 42,68 miliar lembar saham GOTO diperdagangkan, jumlah ini merepresentasikan lebih dari 60% dari total volume saham yang diperdagangkan di pasar pada penutupan pekan lalu. Selain volume, nilai transaksi saham GOTO juga menempati posisi strategis, masuk dalam daftar 10 saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai angka Rp 1,03 triliun. Angka-angka ini tidak hanya menegaskan tingkat likuiditas yang tinggi pada saham GOTO, tetapi juga mengindikasikan bahwa saham ini menjadi pusat perhatian investor, baik domestik maupun asing, di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.
Dominasi investor asing dalam aktivitas perdagangan saham GOTO sangat terlihat jelas. Pada periode yang sama, investor asing membukukan pembelian saham GOTO senilai Rp 537 miliar, sementara penjualan yang dilakukan oleh mereka mencapai Rp 238,9 miliar. Selisih antara pembelian dan penjualan ini menghasilkan angka beli bersih yang substansial, yakni Rp 288 miliar, menunjukkan kepercayaan yang kuat dari investor internasional terhadap prospek GOTO meskipun terjadi volatilitas harga dan sentimen pasar yang negatif secara umum. Perilaku ini menarik perhatian karena kontras dengan tren pasar yang lebih luas.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia pada Jumat (16/10) menghadapi tekanan jual yang signifikan dari investor asing. Mereka mencatatkan jual bersih atau net sell di seluruh pasar saham Indonesia sebesar Rp 3,3 triliun. Tren jual bersih ini bukan fenomena baru, mengingat akumulasi net sell oleh investor asing sepanjang tahun ini telah mencapai angka fantastis, yaitu Rp 88 triliun. Penarikan modal asing yang masif ini telah memberikan dampak serius terhadap kinerja IHSG, yang telah anjlok hingga 40% dari awal tahun. Kondisi ini menggambarkan sebuah periode tantangan besar bagi pasar modal domestik, di mana kepercayaan investor asing secara umum sedang menurun.
Di tengah tekanan jual yang melanda, beberapa saham bank besar menjadi target utama aksi jual bersih oleh investor asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net sell tertinggi, mencapai Rp 2,3 triliun. Kemudian disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell sebesar Rp 1,15 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang juga mengalami jual bersih sebesar Rp 868 miliar. Penjualan besar-besaran pada saham-saham perbankan yang biasanya menjadi penopang IHSG ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam di kalangan investor asing mengenai stabilitas ekonomi makro atau prospek sektor keuangan secara keseluruhan, sehingga membuat fenomena net buy di GOTO semakin menonjol.
Kendati demikian, di sisi lain, beberapa saham lainnya juga berhasil menarik minat beli bersih dari investor asing. Selain GOTO yang memimpin dengan nilai net buy terbesar, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan beli bersih sebesar Rp 75,66 miliar. Selanjutnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga dibeli bersih oleh investor asing dengan nilai Rp 58,6 miliar. Kehadiran saham-saham ini dalam daftar beli bersih menunjukkan bahwa meskipun ada tren penarikan modal secara umum, investor asing masih selektif dalam menempatkan dananya pada emiten-emiten tertentu yang dianggap memiliki prospek menarik atau valuasi yang menguntungkan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Daftar saham yang masih diminati investor asing tidak berhenti di situ. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga mencatatkan net buy sebesar Rp 57,83 miliar, diikuti oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan Rp 57,7 miliar. Selain itu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menarik beli bersih sebesar Rp 56,42 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan Rp 54,44 miliar. Pola pembelian selektif ini mengindikasikan bahwa investor asing mungkin sedang melakukan diversifikasi portofolio mereka atau mencari peluang di sektor-sektor tertentu yang dianggap lebih tangguh atau memiliki potensi pertumbuhan yang kuat, bahkan saat pasar secara keseluruhan sedang lesu. Ini juga menunjukkan bahwa penilaian terhadap fundamental perusahaan menjadi faktor penentu bagi keputusan investasi mereka.
Harga GOTO Turun Setengah Sejak Aturan Saham Rp 1
Pergerakan harga saham GOTO dalam beberapa waktu terakhir telah menjadi sorotan utama di pasar modal. Tercatat, harga saham GOTO telah mengalami penurunan signifikan, mencapai 50% dari posisinya semula, sejak berlakunya perubahan aturan batas minimal harga saham. Aturan baru ini, yang diimplementasikan pada 28 September 2226, mengubah batas harga minimal dari Rp 50 menjadi Rp 1 per lembar saham. Dampak langsung dari perubahan aturan ini sangat terasa pada saham GOTO, yang langsung tersungkur dan bahkan menyentuh batas auto reject bawah (ARB) selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran di kalangan sebagian investor, meskipun analis pasar melihatnya sebagai bagian dari proses penyesuaian.
Menanggapi volatilitas ini, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, memberikan pandangan yang menenangkan. Ia menilai bahwa investor tidak perlu terlalu panik melihat pergerakan saham GOTO yang berada di bawah level Rp 50. Menurut Aditya, penurunan harga GOTO hingga di bawah “gocap”—istilah populer untuk saham di bawah Rp 50—sudah sesuai dengan ekspektasi pasar sejak perubahan aturan perdagangan saham diumumkan. Penilaian ini didasarkan pada pemahaman bahwa pasar akan merespons secara alami terhadap kebijakan baru yang memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pergerakan harga saham, terutama untuk saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang besar seperti GOTO.
Aditya Prayoga justru melihat penghapusan batas harga minimal Rp 50 sebagai perkembangan yang positif bagi saham GOTO dalam jangka panjang. Argumentasinya berpusat pada gagasan bahwa harga saham yang dapat bergerak lebih bebas, mengikuti dinamika permintaan dan penawaran yang sebenarnya di pasar, akan menciptakan ruang yang lebih terbuka untuk pembentukan harga yang efisien. Dengan kata lain, mekanisme pasar akan bekerja lebih optimal dalam menentukan nilai intrinsik saham, tanpa terdistorsi oleh batasan harga yang kaku. Hal ini diharapkan dapat mendorong transparansi dan efisiensi pasar, yang pada akhirnya akan menguntungkan investor dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Lebih lanjut, Aditya menekankan bahwa kejelasan harga merupakan faktor krusial, terutama bagi investor institusi yang mempertimbangkan untuk masuk ke suatu saham. Dengan adanya kejelasan tersebut, mereka dapat menilai secara lebih akurat harga masuk yang optimal, mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin timbul, serta merencanakan peluang keluar dari posisi investasi mereka. Keputusan-keputusan ini didasarkan pada transaksi yang terbentuk dan dapat diamati secara langsung di pasar. Ini memberikan landasan yang lebih kokoh bagi investor institusi untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi dan strategis, mengurangi ketidakpastian yang sebelumnya mungkin timbul dari batasan harga.
Aditya Prayoga secara lugas menyatakan, “Sekarang proses price discovery terlihat lebih jelas, investor dapat menilai pada harga berapa saham GOTO benar-benar diperdagangkan, lalu menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan investasi.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya mekanisme pasar yang transparan dalam menemukan harga yang mencerminkan nilai sebenarnya dari suatu aset. Dengan tidak adanya batas bawah yang membatasi pergerakan harga, pasar memiliki kebebasan untuk menemukan titik keseimbangan di mana permintaan dan penawaran bertemu. Informasi harga yang lebih akurat ini kemudian menjadi dasar fundamental bagi investor untuk merumuskan strategi investasi mereka, baik untuk tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.
Dengan dibukanya batas harga minimal hingga Rp 1, Aditya memperkirakan bahwa transaksi saham GOTO berpeluang meningkat di pasar reguler. Peningkatan likuiditas ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih representatif mengenai valuasi saham. Di sisi lain, ia juga memproyeksikan bahwa harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan. Hal ini mengindikasikan adanya potensi diskon atau valuasi yang menarik bagi investor yang berorientasi jangka panjang, yang melihat nilai intrinsik perusahaan lebih tinggi dari harga pasar saat ini. Analisis ini menyiratkan bahwa ada kesenjangan antara persepsi pasar dan kinerja riil perusahaan.
Aditya mencatat bahwa GoTo telah membukukan laba bersih positif selama dua kuartal berturut-turut, sebuah pencapaian yang signifikan dalam menunjukkan perbaikan kinerja operasional. Selain itu, pendapatan dan profitabilitas perseroan juga terus menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Data fundamental ini menjadi pijakan kuat bagi argumen bahwa harga saham saat ini mungkin belum sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan finansial perusahaan yang membaik. Perbaikan fundamental ini sangat penting karena pada akhirnya akan menjadi daya tarik utama bagi investor, terutama mereka yang berinvestasi berdasarkan analisis nilai perusahaan.
Menurut Aditya, volatilitas pada saham GOTO masih berpotensi terjadi hingga pasar menemukan keseimbangan harga yang baru. Proses penyesuaian ini adalah bagian alami dari mekanisme pasar ketika ada perubahan signifikan dalam aturan atau sentimen. Namun, ia optimis bahwa jika likuiditas di pasar reguler pulih dan kinerja GoTo terus menunjukkan perbaikan, fundamental perusahaan akan kembali menjadi faktor utama yang diperhatikan investor dalam menilai saham GOTO. Ini menekankan bahwa meskipun sentimen dan aturan pasar dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek, kinerja inti perusahaan akan menjadi penentu nilai jangka panjang.
Kinerja bisnis perusahaan yang terus menunjukkan pertumbuhan positif juga dikonfirmasi oleh Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny. Ia mengungkapkan bahwa pada kuartal kedua tahun 2026, GOTO berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar. Pencapaian ini menandai kinerja positif selama dua kuartal berturut-turut, sebuah indikator kuat dari efisiensi operasional dan strategi bisnis yang berhasil. Selain itu, pendapatan bersih perusahaan tercatat mencapai Rp 5,7 triliun, sementara Adjusted EBITDA berhasil melampaui Rp 1 triliun. Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.
Audrey Petriny lebih lanjut menegaskan komitmen perusahaan dengan menyatakan, “Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun.” Pernyataan ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap target keuangan yang telah ditetapkan, yang didukung oleh kinerja yang solid. Ia menambahkan, “Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.” Fokus pada penguatan fundamental bisnis dan pencapaian target keuangan ini adalah strategi krusial untuk membangun kepercayaan investor dan memastikan pertumbuhan nilai perusahaan yang berkelanjutan.




