BRI (BBRI) Siap Buyback Saham: Perkuat Nilai & Kepercayaan Pemegang Saham

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menyatakan kesiapan penuh untuk berpartisipasi secara aktif dalam rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. Langkah strategis ini dirancang sebagai bentuk komitmen perseroan dalam memelihara dan menjaga stabilitas nilai perusahaan, sekaligus mengoptimalkan nilai tambah bagi para pemegang saham di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang sedang menghadapi tekanan serta dinamika fluktuasi harga.

Advertisements

Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia, Dhanny, menjelaskan bahwa rencana pelaksanaan aksi buyback saham BBRI tersebut bukan sekadar respons spontan terhadap fluktuasi pasar modal, melainkan cerminan dari tingkat keyakinan yang sangat tinggi dari jajaran manajemen terhadap kekuatan fundamental dan prospek pertumbuhan bisnis jangka panjang perseroan. Dalam menjalankan skema pembelian kembali saham ini, perseroan menegaskan komitmen untuk tetap mengedepankan prinsip kecukupan permodalan yang solid, menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking), serta menjalankan seluruh prosedur tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sesuai dengan koridor hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di industri pasar modal.

Pernyataan resmi dari pihak manajemen BRI tersebut menegaskan bahwa keterlibatan perseroan dalam program pembelian kembali saham akan direalisasikan melalui perhitungan yang sangat cermat dan terukur. Penjagaan terhadap tingkat permodalan atau rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) menjadi landasan utama agar operasional bisnis inti perbankan tetap berjalan optimal dan kuat. Melalui pendekatan yang terstruktur serta mengacu pada regulasi otoritas pasar modal yang berlaku, aksi korporasi ini diharapkan mampu memberikan sinyal positif kepada para investor publik mengenai nilai intrinsik saham perseroan yang sesungguhnya di bursa.

Advertisements

Kondisi perdagangan di bursa efek menunjukkan sinyal pemulihan pada pergerakan saham perseroan. Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tercatat mengalami penguatan signifikan sebesar 7,87 persen, sehingga melesat hingga menyentuh level harga Rp2.740 per lembar saham pada sesi perdagangan Selasa (20/10/2026). Pergerakan positif pada saham perbankan BUMN ini berjalan seiring dengan perbaikan kinerja pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut mencatatkan kenaikan sebesar 3,24 persen menuju posisi 5.219 hingga pukul 14.49 WIB pada hari yang sama.

Kenaikan IHSG tersebut menjadi momentum kebangkitan kembali pasar modal domestik setelah pada hari sebelumnya, yaitu Senin (19/10/2026), indeks acuan saham Indonesia tersebut sempat mengalami penurunan drastis hingga menyentuh level terendahnya di angka 4.998. Tekanan berat yang menimpa pergerakan harga saham secara meluas di bursa domestik tersebut dipicu oleh sentimen pasar pasca diterbitkannya pengumuman resmi dari lembaga pemeringkat global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam pengumumannya, MSCI menyampaikan usulan mengenai rencana reklasifikasi status pasar modal Indonesia, dari yang sebelumnya masuk dalam kategori pasar berkembang (Emerging Market) menjadi kategori pasar mandiri (Standalone Market).

Kendati pasar saham domestik sempat terguncang akibat munculnya wacana reklasifikasi indeks MSCI tersebut, pihak pemerintah Republik Indonesia bersama dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menilai bahwa kondisi gejolak pasar ini justru menciptakan ruang dan momentum peluang investasi yang sangat prospektif. Pemerintah dan BPI Danantara melihat penurunan harga saham di bursa sebagai kesempatan berharga untuk melakukan penetrasi investasi pada entitas-entitas bisnis yang memiliki landasan fundamental keuangan yang kokoh, namun sedang berada pada tingkat valuasi yang terdiskon dan sangat menarik untuk dikoleksi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, memberikan pandangannya terkait dinamika kondisi pasar modal saat ini. Beliau menyampaikan bahwa volatilitas dan koreksi harga yang terjadi di pasar modal membuat jajaran saham dari badan usaha milik negara (BUMN) berada pada level harga dengan valuasi yang sangat ekonomis dan ideal untuk pengakumulasian investasi jangka panjang. Penilaian tersebut disampaikan secara langsung oleh Rosan usai menghadiri rangkaian rapat terbatas bidang ekonomi bersama Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (19/10/2026).

Dalam keterangannya, Rosan Perkasa Roeslani secara spesifik menyoroti sektor perbankan nasional sebagai salah satu sektor industri yang memiliki ketahanan fundamental sangat kuat, namun harga sahamnya tertekan hingga berada di level valuasi terendah. Beliau menggambarkan situasi tersebut dengan memaparkan fakta mengenai rata-rata nilai rasio harga saham terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) pada saham-saham emiten perbankan yang telah berada di bawah angka satu kali (< 1x). Angka rasio PBV di bawah satu kali ini menandakan bahwa harga saham emiten perbankan tersebut ditransaksikan di bawah nilai intrinsik atau nilai buku aset bersih yang dimilikinya, sehingga menyajikan potensi keuntungan akumulasi investasi yang berbobot bagi para investor jangka panjang.

Perspektif senada juga diutarakan oleh Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, Dony Oskaria. Beliau menyatakan bahwa BPI Danantara siap mengambil langkah evaluasi yang komprehensif terhadap emiten-emiten saham yang terbukti memiliki performa fundamental yang solid sebelum melangkah lebih jauh untuk menambah porsi kepemilikan sahamnya di pasar modal. Menurut Dony, fokus utama dari proses kajian dan penambahan modal investasi ini ditujukan terutama kepada saham-saham perusahaan milik negara atau BUMN yang memiliki prospek bisnis jangka panjang yang teruji.

Pernyataan komitmen dari pimpinan BPI Danantara tersebut disampaikan secara langsung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta menjelang menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto. Klarifikasi ini merespons pertanyaan publik mengenai kesiapan BPI Danantara dalam mengalokasikan dan menyiapkan amunisi dana tambahan bernilai fantastis, yakni sebesar US$1 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp18 triliun hingga tenggat akhir tahun 2026. Alokasi dana segar bernilai puluhan triliun rupiah tersebut disiapkan secara khusus untuk diserap dalam skema investasi strategis di pasar modal Indonesia.

Meskipun besaran komitmen dana investasi telah dipublikasikan, Dony Oskaria belum merinci secara detail mengenai besaran riil dari alokasi dana yang akan direalisasikan pada tahap awal, daftar nama emiten saham BUMN spesifik yang menjadi target eksekusi pembelian, maupun jadwal waktu pasti mengenai aksi penambahan porsi kepemilikan saham tersebut. Pihak manajemen BPI Danantara menegaskan bahwa setiap keputusan penetapan alokasi modal dan eksekusi pembelian saham di bursa wajib berlandaskan pada hasil penilaian terukur terhadap kekuatan fundamental emiten yang bersangkutan.

Di samping memaparkan rencana aksi investasi di pasar modal, Dony Oskaria turut memberikan perhatian dan pandangannya mengenai proses demutualisasi bursa efek Indonesia. Demutualisasi bursa merupakan agenda reformasi struktur kepemilikan lembaga bursa saham, yang mana struktur yang semula dikuasai dan dimiliki secara eksklusif oleh perusahaan-perusahaan sekuritas diubah menjadi struktur baru yang memungkinkan kepemilikan pemegang saham secara lebih luas dari berbagai kalangan investor. Menurut penilaian Dony, proses demutualisasi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari proyek besar transformasi struktur pasar modal Indonesia dan sejauh ini telah menunjukkan progres pelaksanaan yang berjalan dengan baik dan terarah.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read