Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai US$ 95 per barel pada tahun ini. Angka tersebut naik dari penetapan APBN yang hanya mencapai US$ 70 per barel.
“Untuk harga minyak relatif kami beli di sekitar US$ 91-92 per barel (sampai saat ini). Sampai akhir (tahun ini) diperkirakan rata-ratanya US$ 95 per barel,” kata Airlangga saat ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Rabu (21/10).
Meski rata-rata ICP sudah di atas patokan, Airlangga menyebut hal ini masih bisa diserap oleh APBN.
Tak hanya Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga membahas terkait rata-rata ICP.
Baca juga:
- Harga Minyak US$106 per Barel, PNBP Hulu Migas Diproyeksi Tembus 109% Target
- Marak Serangan Kapal dan Ancaman Pasokan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
- Harga Minyak Bergejolak, Brent Tembus US$ 109,55/Barel usai Houthi Serang Saudi
Dia menyebut pemerintah saat ini sedang memperhitungkan kenaikan harga minyak dunia yang berpengaruh terhadap ICP. Hal ini diperhitungkan sebab kenaikan ICP secara otomatis akan menambah angka subsidi yang harus dikeluarkan.
“Tetapi, pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi,” kata Bahlil dalam kesempatan yang sama.
Ketua Umum Partai Golkar ini menyampaikan, meski rata-rata ICP hingga saat ini sudah mencapai US$ 92 per barel, namun pemerintah menargetkan angkanya tidak akan melebihi US$ 100 per barel tahun ini.
ICP September 2026
Pemerintah menetapkan rata-rata ICP September 2026 sebesar US$ 112,81 per barel. Angka ini naik US$ 23,38 atau 26% dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level US$ 89,43 per barel.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, Senin (12/10).
“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global. Dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan. Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional,” kata Laode dalam siaran pers, dikutip Selasa (13/10).
Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia. Dia menyebut ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28% dibandingkan Juli.
“Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.
Selain itu, ada faktor lain yakni penundaan kuota produksi oleh organisasi negara pengekspor minyak terbesar di dunia beserta sekutunya atau OPEC+ dan serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah yang turut memperketat pasokan minyak mentah global.




