KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi domestik menunjukkan pergerakan yang bervariasi menyusul keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), di tengah sentimen global yang diwarnai oleh anjloknya saham teknologi di Wall Street dan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap nilai investasi kecerdasan buatan (AI) telah kembali menekan Wall Street, yang pada akhirnya memicu pergeseran selera risiko investor secara global menuju aset safe-haven.
Akibat sentimen tersebut, indeks Nasdaq anjlok 2,60% yang menandai penurunan paling tajam sejak awal Juni, sementara S&P 500 melemah 1,21%. Di saat bersamaan, harga minyak yang memantul ke level tertinggi dalam lima bulan turut mempertebal tekanan inflasi global.
Saham Ritel Turun 17%, ACES Tawarkan Dividen 10,6%, AMRT Lebih Diunggulkan
Ketakutan terhadap valuasi AI dan inflasi ini membuat imbal hasil (yield) US Treasury atau T-notes reli dengan penurunan 12 hingga 17 basis poin (bps) di seluruh kurva.
Yield T-notes 2 tahun turun menjadi 4,65% dan tenor 10 tahun melandai ke 4,96%, meskipun klaim pengangguran awal AS dilaporkan turun menjadi 194.000, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja masih tangguh.
Penurunan yield obligasi pemerintah juga terjadi secara global, dipimpin oleh German Bund tenor 10 tahun yang turun ke 3,34% dan UK Gilt tenor 10 tahun ke 5,33%.
Sementara itu, pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) merespons keputusan suku bunga BI secara bervariasi dengan rentang 1 hingga 5 bps di seluruh kurva.
Tekanan repricing moderat mendorong yield acuan tenor 5 tahun naik 3,9 bps menjadi 7,22%.
Namun, obligasi berjangka panjang justru mendapat dukungan dari aksi beli selektif di tengah melandainya yield global, sehingga yield tenor 10 tahun turun ke level 7,19%.
Dari pasar valuta asing, mata uang Garuda masih belum mampu lepas dari tekanan. Nilai tukar USD/IDR naik 0,25% ke level Rp 18.050. Rupiah tertekan meskipun dolar AS secara umum sedang melemah, lantaran aksi jual asing yang terus berlanjut memberatkan sentimen valas domestik.
“Mengingat perkembangan pasar global dan domestik baru-baru ini, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,30%-7,40% untuk hari ini,” kata Ridwan dalam risetnya, Jumat (23/10/2026).
IHSG Menguat ke 5.401,5 di Pagi Ini (23/10), Top Gainers LQ45: AKRA, ADMR, ASII
Adapun aktivitas perdagangan dari segi nilai pada pasar domestik terpantau relatif sepi.
Seri PBS040, FR0092, dan FR0110 mencatat nilai transaksi tertinggi, masing-masing sebesar Rp 1,93 triliun, Rp 1,72 triliun, dan Rp 1,55 triliun.
Berdasarkan tingkat frekuensi transaksi, seri PBS030, FR0111, PBS003, FR0102, dan FR0108 menjadi instrumen yang paling aktif diperdagangkan oleh investor.
Menyikapi kondisi pasar saat ini, seri Indo-GB yang dinilai menarik untuk diperdagangkan meliputi PBS030, FR0101, FR0096, FR0108, dan FR0111.




