DEWA: Kontrak & Sukuk Pendorong Kinerja Positif, Simak Rekomendasi Saham

Hikma Lia

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) secara konsisten mengimplementasikan strategi pertumbuhan bisnis yang agresif dan berfokus pada peningkatan efisiensi di seluruh lini operasionalnya. Upaya strategis ini merupakan langkah fundamental perseroan untuk memperkuat posisi di sektor jasa pertambangan yang kompetitif. Fokus pada optimalisasi operasional dan perluasan cakupan bisnis menjadi pilar utama dalam mencapai tujuan jangka panjang perusahaan.

Advertisements

Analis terkemuka dari BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, telah mengamati dan menilai bahwa kinerja operasional DEWA berada pada lintasan yang sangat positif. Penilaian ini didasarkan pada keberhasilan signifikan dari strategi internalisasi armada yang diterapkan oleh perseroan. Strategi internalisasi armada, yang melibatkan kepemilikan dan pengelolaan alat berat serta infrastruktur pendukung secara mandiri, terbukti menjadi faktor krusial dalam mendorong perluasan margin keuntungan secara substansial. Dengan mengelola aset-aset penting ini sendiri, DEWA mampu mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, mengoptimalkan biaya operasional, dan meningkatkan fleksibilitas dalam penjadwalan dan pelaksanaan proyek.

Efisiensi yang dihasilkan dari strategi tersebut tercermin jelas dalam pencapaian laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) DEWA pada kuartal ketiga tahun 2026. Angka EBITDA perseroan melonjak tajam sebesar 27,5% secara kuartalan, mencapai Rp 626 miliar. Pertumbuhan EBITDA yang impresif ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya operasional dan meningkatkan profitabilitas inti. Perlu dicatat bahwa pencapaian EBITDA ini melampaui pertumbuhan pendapatan perseroan yang naik 14,4% pada periode yang sama. Disparitas antara pertumbuhan EBITDA dan pendapatan mengindikasikan adanya perbaikan signifikan dalam struktur biaya dan efektivitas operasional, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan margin keuntungan.

Advertisements

Kinerja operasional yang kuat pada kuartal ketiga 2026 didorong oleh beberapa faktor kunci. Salah satunya adalah kontribusi penuh operasional armada di Bengalon, yang mulai menunjukkan hasil maksimal setelah proses internalisasi. Selain itu, kondisi cuaca yang bersahabat turut mendukung kelancaran kegiatan penambangan dan pengangkutan material, sehingga meminimalkan hambatan operasional dan memaksimalkan volume produksi. Kombinasi faktor-faktor ini secara kolektif mendorong margin EBITDA perseroan melesat menjadi 33,0%, meningkat signifikan dari 29,6% pada kuartal kedua tahun yang sama. Peningkatan margin ini adalah indikator kuat dari kesehatan finansial dan efektivitas manajemen DEWA.

Di samping peningkatan efisiensi, DEWA juga aktif dalam perluasan cakupan kerja melalui proyek-proyek strategis. Salah satu inisiatif penting adalah proyek Sebuku, yang telah berjalan sesuai jadwal sejak dimulai pada bulan Agustus 2026. Proyek ini diharapkan akan menjadi fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan volume produksi dan material movement di masa depan, memberikan kepastian pendapatan dan operasional bagi perseroan. Keberlanjutan proyek Sebuku merupakan bagian integral dari strategi DEWA untuk memperkuat portofolio kontraknya dan memastikan aliran kerja yang stabil.

Menatap prospek ke depan, katalis laba berikutnya bagi DEWA diperkirakan akan berasal dari potensi perolehan kontrak-kontrak baru yang signifikan. Erindra Krisnawan menggarisbawahi upaya DEWA dalam mengejar peluang penambangan batubara di Sumatera Selatan dan penambangan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Kedua wilayah ini dikenal memiliki cadangan sumber daya mineral yang melimpah dan strategis, menawarkan potensi pasar yang besar bagi jasa pertambangan. Ekspansi ke wilayah-wilayah ini akan memperluas jejak operasional DEWA dan mendiversifikasi portofolio komoditas yang dilayani, mengurangi ketergantungan pada satu jenis mineral saja.

Dalam skenario optimistis, tambahan proyek dari peluang-peluang baru di Sumatera Selatan dan Halmahera Timur diproyeksikan mampu menyumbang pergerakan material tahunan hingga 61,4 juta bank cubic meter (mbcm). Angka ini merepresentasikan peningkatan kapasitas operasional yang masif, menunjukkan skala pertumbuhan yang diincar oleh DEWA. Ekspansi ini berpotensi meningkatkan estimasi pendapatan perseroan sebesar 25,6%, atau bertambah Rp 3,02 triliun, yang akan secara signifikan memperkuat posisi finansial DEWA. Lebih jauh lagi, laba bersih perseroan diproyeksikan melonjak tajam 54,5% dengan tambahan Rp 896 miliar untuk tahun 2027 mendatang, mengindikasikan dampak positif yang luar biasa terhadap profitabilitas.

Guna merealisasikan rencana ekspansi anorganik dan mendukung pertumbuhan yang ambisius ini, DEWA berencana menerbitkan Sukuk Wakalah dengan nilai maksimal Rp 3,5 triliun. Sukuk Wakalah adalah instrumen pembiayaan syariah yang fleksibel, di mana investor membeli sertifikat yang mewakili kepemilikan atas aset atau proyek tertentu. Pemilihan instrumen ini mencerminkan strategi pendanaan yang diversifikasi dan adaptif terhadap kondisi pasar. Erindra Krisnawan menjelaskan bahwa hasil penerbitan sukuk ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan belanja modal (capital expenditure) dan modal kerja perusahaan. Ini akan memberikan tambahan fleksibilitas pendanaan yang krusial untuk mobilisasi proyek-proyek baru, akuisisi peralatan, serta penguatan posisi dalam memenangkan tender-tender strategis di masa mendatang.

Penerbitan sukuk tahap awal ditargetkan mencapai Rp 1,5 triliun pada bulan Desember 2026. Jumlah ini setara dengan sekitar 46% dari proyeksi belanja modal perusahaan untuk tahun 2027. Pendanaan yang proaktif ini menunjukkan kesiapan DEWA dalam mendukung kebutuhan investasi untuk pertumbuhan, memastikan bahwa tidak ada kendala finansial yang menghambat pelaksanaan proyek-proyek vital. Dengan mengamankan pendanaan di muka, DEWA dapat lebih leluasa dalam merencanakan dan melaksanakan ekspansi operasionalnya.

Meskipun prospek fundamental DEWA tampak sangat menjanjikan dengan potensi pertumbuhan yang solid, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang mungkin timbul. Risiko-risiko tersebut meliputi potensi penundaan eksekusi proyek, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti masalah perizinan, kondisi geologi yang tidak terduga, atau tantangan logistik. Selain itu, beban pendanaan yang membengkak juga menjadi perhatian, terutama jika terdapat perubahan suku bunga atau yield sukuk di pasar keuangan, yang dapat memengaruhi biaya modal perusahaan. Risiko regulasi juga patut diperhatikan, khususnya terkait penerapan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) No. 365/2026. Regulasi ini berpotensi membawa dampak pada operasional dan biaya, misalnya melalui perubahan tarif jasa pertambangan, standar lingkungan, atau kuota produksi.

Melihat prospek kelanjutan perbaikan margin operasional yang didukung oleh strategi internalisasi armada, serta volume produksi yang terjamin dari proyek Sebuku, Erindra Krisnawan mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DEWA. Target harga yang ditetapkan adalah Rp 530 per saham. Analis tersebut meyakini bahwa potensi kemenangan tender di Sumatera Selatan dan Halmahera Timur akan memberikan tambahan peluang keuntungan (upside) yang masif bagi valuasi saham perseroan ke depannya. Keberhasilan dalam mengamankan kontrak-kontrak baru di wilayah-wilayah strategis tersebut diyakini akan menjadi pendorong utama bagi peningkatan nilai saham DEWA.

Advertisements

Also Read

Tags