Reksadana USD Offshore Cetak Cuan Berkat Saham Global, Onshore Tertekan

Hikma Lia

Dinamika pasar keuangan memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan industri reksadana, khususnya produk yang berbasis mata uang dolar Amerika Serikat (USD). Dalam lanskap investasi saat ini, terlihat jelas adanya kontras kinerja yang cukup tajam antara produk reksadana USD onshore dan offshore. Produk reksadana USD onshore, yang menempatkan dananya pada instrumen keuangan dalam negeri, mengalami tekanan cukup berat. Sebaliknya, produk reksadana USD offshore, yang berinvestasi pada portofolio pasar global, justru berhasil mencatatkan return atau imbal hasil yang sangat positif.

Advertisements

Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena perbedaan kinerja ini. Menurut Ezra, hingga periode September 2026, kinerja reksadana berbasis dolar AS dengan instrumen penempatan domestik (onshore) secara umum cenderung mengalami tekanan. Kinerja yang tertekan ini membayangi hampir seluruh jenis reksadana USD onshore, dengan pengecualian pada kategori reksadana pasar uang yang masih mampu bertahan.

Kondisi tertekannya instrumen onshore ini tidak terlepas dari berbagai tantangan berat yang sedang dihadapi oleh pasar finansial dalam negeri. Pasar keuangan domestik terimbas oleh ketidakpastian dan situasi pasar global yang belum sepenuhnya kondusif. Ketegangan geopolitik serta arah kebijakan moneter global yang fluktuatif menjadi faktor eksternal yang memberikan tekanan berantai pada pasar modal Indonesia.

Advertisements

Kondisi pasar hingga September 2026 ini berbalik cukup drastis jika dibandingkan dengan rekam jejak pada tahun sebelumnya. Pada periode yang sama di tahun lalu, reksadana berbasis dolar AS onshore mampu mencatatkan kinerja yang terbilang positif dan memberikan hasil yang memuaskan bagi para investor. Perubahan arah kinerja ini menegaskan betapa tingginya sensitivitas aset-aset berbasis dolar AS dalam negeri terhadap pergeseran sentimen global serta dinamika arus modal investor.

Berbeda halnya dengan instrumen onshore, produk reksadana dolar AS offshore—yang underlying asset-nya fokus pada instrumen berharga di luar negeri—menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan sanggup mendulang imbal hasil yang memikat. Ezra Nazula menjelaskan bahwa keberhasilan reksadana USD offshore dalam mencetak kinerja positif didorong oleh penempatan dana pada sektor-sektor strategis yang saat ini menjadi motor penggerak utama perekonomian dunia. Sektor-sektor unggulan global tersebut mencakup teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta sektor layanan dan inovasi kesehatan.

Sebagai gambaran nyata dari solidnya kinerja reksadana USD offshore, Ezra merujuk pada salah satu produk unggulan yang dikelola oleh MAMI, yakni Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF). Berdasarkan data fund factsheet per September 2026, reksadana MANSYAF berhasil membukukan pertumbuhan imbal hasil sebesar 48,89% Year-to-Date (YtD). Pencapaian ini menempatkan MANSYAF sebagai produk dengan tingkat imbal hasil tertinggi di antara jajaran produk reksadana dolar AS offshore yang dikelola oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Melihat fakta efektivitas produk offshore tersebut, Ezra menyoroti bahwa reksadana USD dapat dimanfaatkan sebagai alternatif instrumen yang sangat berharga bagi investor domestik yang ingin melakukan diversifikasi portofolio investasi secara optimal. Melalui skema reksadana offshore, para pemodal lokal memiliki akses dan kesempatan langsung untuk memperoleh eksposur pada beragam pilihan mata uang, cakupan wilayah geografis, serta sektor-sektor industri masa depan yang belum banyak diperdagangkan atau belum tersedia di pasar keuangan domestik.

Meskipun instrumen berbasis dolar AS menawarkan potensi imbal hasil menarik, Ezra memberikan catatan kritikal mengenai pemahaman dasar atas mekanisme reksadana USD. Ia menekankan bahwa pergerakan dan kinerja reksadana USD pada dasarnya jauh lebih dipengaruhi oleh performa underlying asset (aset dasar) produk tersebut, dibandingkan semata-mata mengandalkan pergerakan nilai tukar mata uang.

Hal ini menjadi poin edukasi mendasar bagi para pemodal: penurunan atau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak serta-merta menjamin bahwa suatu reksadana USD akan secara otomatis membuahkan imbal hasil yang tinggi. Jika harga aset dasar yang menjadi portofolio reksadana tersebut mengalami penurunan nilai di pasarnya, maka kinerja produk secara keseluruhan tetap dapat tertekan meskipun mata uang dolar AS sedang menguat terhadap rupiah. Oleh karena itu, para investor diimbau untuk selalu bertindak cermat dalam menganalisis portofolio instrumen serta target pasar yang menjadi tujuan investasi dari produk reksadana yang dipilih.

Memasuki pembahasan mengenai prospek mendatang, pergerakan dan dinamika pasar global diproyeksikan masih akan terus dinaungi oleh berbagai faktor risiko eksternal. Isu-isu sensitif seperti ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah serta potensi risiko lonjakan inflasi global tetap menjadi perhatian utama yang memengaruhi sentimen para pelaku pasar. Namun di tengah gejolak pasar tersebut, eksis sejumlah tema investasi struktural yang dinilai memiliki daya tahan tinggi dan berpotensi besar untuk terus melesat mendongkrak kinerja reksadana USD offshore.

Beberapa tema investasi struktural yang berpotensi menjadi pendorong kinerja jangka panjang antara lain akselerasi adopsi teknologi AI secara global, arus transisi energi menuju target net zero carbon, serta gelombang inovasi pada sektor teknologi kesehatan. Sektor-sektor ini dinilai tidak hanya memiliki pertumbuhan prospektif, tetapi juga didukung oleh kebutuhan fundamental perekonomian dunia masa depan.

Secara khusus, perkembangan pada industri kecerdasan buatan terus menyedot perhatian para pelaku pasar global. Di satu sisi, timbul kekhawatiran dan wacana di kalangan investor mengenai risiko terjadinya potensi gelembung speculatif atau AI Bubble. Namun di sisi lain, data riil menunjukkan bahwa realisasi belanja modal (capital expenditure / Capex) dari perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dunia terus mengalami revisi naik dari waktu ke waktu untuk mendukung pengembangan infrastruktur AI.

Ezra memperkirakan bahwa potensi pertumbuhan di sektor teknologi dan AI ini ke depannya masih sangat terbuka lebar. Kunci utama untuk mengeksekusi potensi ini terletak pada strategi pengelolaan investasi secara aktif. Pengelolaan portofolio secara aktif dan profesional diyakini sanggup menyaring aset-aset berkualitas tinggi, sehingga mampu memberikan imbal hasil yang terukur dengan tingkat risiko yang optimal (risk-return reward) bagi para investor.

Sementara untuk segmen reksadana dolar AS onshore, pemulihan kepercayaan investor (investor confidence) diyakini akan menjadi katalisator paling krusial. Kepercayaan pemodal yang pulih akan memberikan dorongan positif bagi pergerakan pasar finansial dalam negeri secara keseluruhan. Ezra menegaskan bahwa kondisi fundamental perekonomian Indonesia sejauh ini berada pada posisi yang cukup kuat dan tahan banting. Dengan modal fundamental yang kokoh tersebut, faktor pemicu utama yang dibutuhkan untuk membangkitkan kinerja reksadana USD onshore adalah kembalinya tingkat kepercayaan dan optimisme para pelaku pasar untuk kembali menempatkan dana mereka di aset-aset domestik.

Dalam merespons kondisi pasar yang dinamis ini, Ezra menyajikan panduan dan rekomendasi strategis bagi para investor yang berminat menempatkan dananya pada instrumen reksadana USD. Langkah awal yang paling esensial adalah menyelaraskan pemilihan produk reksadana dengan profil risiko pribadi serta jangka waktu tujuan investasi yang ingin dicapai.

Bagi kelompok investor dengan profil risiko agresif serta memiliki horizon investasi jangka panjang, produk reksadana saham USD—baik berjenis onshore maupun offshore—dapat dipertimbangkan sebagai sarana utama untuk mengejar pertumbuhan modal yang maksimal (capital growth). Karakteristik reksadana saham yang fluktuatif namun berpotensi memberikan hasil tinggi cocok dengan profil investor yang siap menoleransi risiko pasar demi imbal hasil tinggi di masa depan.

Sebaliknya, bagi investor yang memiliki profil risiko sangat konservatif dan berfokus penuh pada perlindungan nilai pokok investasi, reksadana pasar uang berbasis USD menjadi pilihan yang paling rasional. Produk reksadana pasar uang menawarkan stabilitas nilai kapital dan tingkat risiko kerugian yang sangat minim, sehingga cocok bagi pemodal yang tidak siap menghadapi potensi kerugian modal akibat gejolak harga pasar.

Selain pemetaan profil risiko, Ezra turut memberikan saran taktis mengenai cara masuk ke pasar. Investor disarankan untuk menerapkan strategi investasi secara bertahap dan konsisten, serta senantiasa menjaga disiplin diversifikasi portofolio agar tidak menumpuk risiko pada satu jenis aset saja. Dalam menghadapi dinamika pergerakan harga harian, investor diimbau untuk tetap tenang, berfokus penuh pada tujuan finansial jangka panjang, serta menghindari keputusan-keputusan emosional yang bersifat impulsif. Keputusan impulsif yang sering kali dipicu oleh tren sesaat atau rasa takut ketinggalan momentum pasar (FOMO / Fear of Missing Out) berpotensi merusak alokasi aset dan mengganggu pencapaian target investasi secara keseluruhan.

Advertisements

Also Read

Tags