BANYU POS JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), salah satu perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia, telah menunjukkan perbaikan signifikan dalam kinerja keuangannya sepanjang periode Januari hingga September 2026. Perusahaan mencatatkan penurunan rugi bersih yang substansial, sebuah indikasi positif dari upaya transformasi dan penyehatan yang telah dijalankan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Rugi bersih PT Wijaya Karya Tbk pada sembilan bulan pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp 1,53 triliun. Angka ini merepresentasikan penurunan sebesar 52,23% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan rugi bersih ini menjadi sorotan utama, menunjukkan adanya momentum positif dalam upaya perusahaan untuk memulihkan kesehatan finansialnya. Perbaikan ini tidak terlepas dari serangkaian strategi yang diterapkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat basis pendapatan.
Salah satu pendorong utama perbaikan kinerja keuangan WIKA adalah peningkatan penjualan konsolidasi. Pada kuartal III 2026, penjualan perusahaan berhasil tumbuh sebesar 11,9% YoY, mencapai angka Rp 15,80 triliun. Penjualan ini terbagi menjadi dua segmen utama: penjualan dari proyek non Kerja Sama Operasi (non KSO) sebesar Rp 9,04 triliun dan penjualan dari proyek Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp 6,77 triliun. Struktur penjualan yang terdiversifikasi ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola berbagai jenis proyek, baik yang dikerjakan secara mandiri maupun melalui kemitraan strategis. Penjualan dari proyek KSO, yang seringkali melibatkan proyek-proyek infrastruktur besar dengan konsorsium, mencerminkan kapasitas WIKA dalam menangani proyek berskala kompleks.
Selain peningkatan penjualan, PT Wijaya Karya Tbk juga berhasil membukukan kenaikan signifikan dalam perolehan kontrak baru. Hingga kuartal III 2026, nilai kontrak baru yang diraih perusahaan melonjak sebesar 57,9% YoY, mencapai Rp 9,78 triliun. Perolehan kontrak baru ini merupakan indikator vital bagi keberlanjutan bisnis di sektor konstruksi, menjamin adanya aliran pendapatan di masa mendatang. Peningkatan ini didukung oleh penerapan strategi pemilihan proyek yang lebih ketat dan selektif.
Ngatemin atau yang akrab disapa Emin, selaku Corporate Secretary WIKA, menjelaskan bahwa capaian kinerja positif ini merupakan hasil dari upaya transformasi dan penyehatan yang telah secara konsisten diimplementasikan sejak tahun 2023. Strategi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan proyek hingga efisiensi biaya. Salah satu kebijakan kunci yang ditekankan adalah penerapan prinsip four eyes principle dalam perolehan kontrak baru. Prinsip ini memastikan bahwa setiap keputusan penting, khususnya terkait proyek, ditinjau oleh setidaknya dua pihak independen untuk meminimalkan risiko dan memastikan objektivitas. Selain itu, WIKA juga menerapkan pola pembayaran uang muka dan pembayaran progres bulanan, yang berkontribusi pada pengelolaan arus kas yang lebih baik dan mengurangi risiko penundaan pembayaran.
Efisiensi operasional juga tercermin dari peningkatan laba kotor perusahaan. Laba kotor WIKA tercatat sebesar Rp 1,09 triliun, meningkat 44,4% YoY. Peningkatan ini juga diikuti dengan perbaikan margin laba kotor menjadi 12,11%, naik dari 8,34% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan margin ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak hanya berhasil meningkatkan penjualan, tetapi juga mengelola biaya produksi dan operasional dengan lebih efektif.
Dalam upaya pengendalian biaya, beban umum dan administrasi PT Wijaya Karya Tbk berhasil diturunkan tipis dari Rp 865,78 miliar menjadi Rp 833,19 miliar per kuartal III 2026. Penurunan ini, meskipun tidak terlalu besar, menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan pengeluaran non-operasional. Lebih signifikan lagi, beban lain-lain perusahaan turun drastis dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 245,08 miliar pada periode yang sama. Pengurangan beban-beban ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan profitabilitas perusahaan.
Sebagai hasilnya, laba usaha WIKA melonjak signifikan sebesar 162,1% YoY menjadi Rp 754,33 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa operasi inti perusahaan semakin sehat dan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Selain itu, EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) core operasi, di luar penyertaan pada investasi kereta, mencapai Rp 957,84 miliar, meningkat 148,4% YoY. Peningkatan EBITDA ini merupakan indikator kuat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dari aktivitas operasionalnya sebelum memperhitungkan biaya non-kas dan beban finansial. Rasio beban operasional (Operating Expense Ratio) juga menurun menjadi 5,34% pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandakan efisiensi yang lebih baik dalam mengelola biaya operasional.
Meskipun menunjukkan perbaikan di banyak lini, PT Wijaya Karya Tbk masih menghadapi tantangan pada beban keuangan. Beban keuangan perusahaan sedikit meningkat menjadi Rp 2,1 triliun dari Rp 2,09 triliun pada Oktober 2025. Peningkatan ini kemungkinan disebabkan oleh tingkat suku bunga yang masih tinggi atau struktur utang yang ada. Namun, di sisi lain, beban pajak penghasilan final berhasil diturunkan menjadi Rp 165,86 miliar di akhir September 2026, dari Rp 172,11 miliar. Selain itu, bagian rugi entitas asosiasi juga mengalami penurunan dari Rp 91,72 miliar menjadi Rp 69,53 miliar per September 2026. Penurunan yang lebih substansial terlihat pada bagian rugi pengendalian bersama, yang turun signifikan dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 279,55 miliar. Pengurangan kerugian dari entitas-entitas terkait ini memberikan dampak positif pada laporan laba rugi konsolidasi WIKA.
Manajemen PT Wijaya Karya Tbk menyatakan komitmennya untuk terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan. Tujuan akhir dari strategi ini adalah menciptakan nilai tambah yang optimal bagi para pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. Fokus pada pertumbuhan yang berkualitas dan profitabilitas yang stabil menjadi landasan bagi rencana jangka panjang perusahaan.
Dari sisi finansial, PT Wijaya Karya Tbk juga berhasil mengurangi total utangnya sebesar Rp 1,42 triliun pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terdiri dari utang berbunga yang menurun Rp 505 miliar dan utang usaha yang menurun Rp 914,54 miliar. Pengurangan utang ini merupakan langkah penting dalam memperbaiki struktur permodalan perusahaan dan mengurangi risiko finansial jangka panjang.
Namun, salah satu isu krusial yang masih membebani kinerja keuangan WIKA adalah masalah cost overrun pada proyek Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung. Perusahaan masih memiliki klaim cost overrun sebesar Rp 5,01 triliun terkait proyek ini. Pada tanggal 31 Desember 2024, WIKA telah mendaftarkan klaim PDPK KSO WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC atas proyek tersebut ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Klaim ini diajukan terhadap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang merupakan pihak berelasi dalam proyek tersebut. Selanjutnya, pada tanggal 30 Januari 2026, WIKA dan KCIC bersama-sama mengajukan permohonan mediasi dalam rangka penyelesaian perselisihan tersebut kepada Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun). Hingga laporan keuangan konsolidasian diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Jamdatun terkait permohonan mediasi tersebut, dan proses di SIAC masih dalam status ditangguhkan (disuspensi). Ketidakpastian penyelesaian klaim cost overrun ini terus menjadi perhatian bagi prospek keuangan WIKA.
Per 30 September 2026, total aset PT Wijaya Karya Tbk tercatat sebesar Rp 49 triliun, sedikit menurun dari Rp 50,14 triliun per 31 Desember 2025. Di sisi lain, jumlah liabilitas perseroan mengalami kenaikan tipis menjadi Rp 48,95 triliun di akhir September 2026, dari Rp 48,46 triliun di akhir Desember 2025. Perubahan dalam struktur aset dan liabilitas ini perlu dicermati secara mendalam.
Yang menjadi perhatian serius adalah kondisi ekuitas perusahaan. Total ekuitas WIKA tercatat sebesar Rp 50,45 miliar per akhir September 2026, amblas secara signifikan dari Rp 1,68 triliun di akhir tahun 2025. Penurunan drastis ekuitas ini, bersamaan dengan peningkatan liabilitas, menyebabkan defisit perusahaan membengkak. Defisit tercatat sebesar Rp 20,82 triliun per September 2026, meningkat dari Rp 19,29 triliun per Desember 2025. Kondisi ekuitas yang menipis dan defisit yang melebar menunjukkan adanya tekanan yang signifikan pada struktur permodalan WIKA, yang memerlukan langkah-langkah restrukturisasi yang komprehensif.
Meskipun demikian, perusahaan menunjukkan perbaikan pada posisi kas. Kas dan setara kas akhir periode WIKA tercatat sebesar Rp 1,82 triliun di akhir September 2026, meningkat dari Rp 1,54 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini memberikan sedikit ruang gerak bagi likuiditas perusahaan. Namun, perlu dicatat bahwa kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi masih minus Rp 647,08 miliar. Angka negatif ini mengindikasikan bahwa aktivitas operasional inti perusahaan masih belum sepenuhnya menghasilkan arus kas positif, dan mungkin masih memerlukan pendanaan dari aktivitas investasi atau pendanaan.
Menghadapi berbagai tantangan dan peluang ini, PT Wijaya Karya Tbk menyatakan bahwa upaya transformasi dan penyehatan yang telah dilakukan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh pihak. Dukungan ini diharapkan datang dari pemegang saham, kreditur, regulator, dan publik, guna memperkuat struktur keuangan perusahaan. Dukungan yang dibutuhkan mencakup restrukturisasi komprehensif, serta pengembalian modal dan divestasi pada proyek penugasan kereta cepat. Langkah-langkah ini krusial untuk menurunkan beban bunga dan beban kerugian yang timbul dari penugasan proyek tersebut. Lebih lanjut, pengembalian modal ini juga akan memungkinkan perusahaan untuk melakukan pembayaran kepada kreditur, baik bank maupun pemegang surat utang seperti obligasi dan sukuk. Perusahaan menjelaskan bahwa pemegang surat utang tersebut terdiri dari 206 perorangan, 88 lembaga dana pensiun, dan 154 lembaga keuangan, menunjukkan dampak luas dari penyelesaian masalah keuangan WIKA terhadap berbagai entitas.




