PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), atau yang dikenal dengan nama Mitratel, mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang terbatas hingga akhir kuartal III-2026. Tekanan terhadap margin profitabilitas emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi ini terutama dipicu oleh lonjakan beban operasional, meskipun dari sisi operasional perseroan masih mencatat perluasan jumlah penyewa menara serta pertumbuhan pada lini bisnis pendukung seperti jaringan serat optik (fiber).
Hingga periode September 2026, Mitratel mencatatkan pendapatan konsolidasian mencapai Rp 7 triliun. Capaian ini tumbuh sebesar 1,8% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (Year on Year/YoY). Kendati pendapatan mencatatkan tren positif, laju pertumbuhan laba bersih perseroan tertahan dan hanya mengalami peningkatan tipis sebesar 0,8% YoY menjadi Rp 1,55 triliun.
Tekanan Beban Operasional Memangkas Margin Laba Inti
Kesenjangan antara laju pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas MTEL menjadi sorotan utama dalam laporan riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang disusun oleh Equity Research Analyst Daniel Aditya Widjaja. Berdasarkan riset tersebut, pertumbuhan top-line MTEL belum mampu terkonversi secara optimal menjadi bottom-line akibat membengkaknya sejumlah komponen beban pokok maupun beban operasional perseroan.
Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, beban pokok pendapatan MTEL tercatat mengalami kenaikan sebesar 4,4% YoY menjadi Rp 3,51 triliun. Kenaikan tersebut melampaui persentase pertumbuhan pendapatan perseroan. Tekanan biaya juga terlihat dari peningkatan beban umum dan administrasi yang melonjak 11,8% YoY menjadi Rp 224 miliar, serta kenaikan beban karyawan sebesar 7,3% YoY yang mencapai Rp 242 miliar.
Kombinasi kenaikan berbagai beban operasional ini berdampak langsung pada laba inti (core profit) perseroan. Laba inti MTEL sepanjang sembilan bulan pertama 2026 hanya mampu tumbuh 0,9% YoY menjadi Rp 1,52 triliun. Secara kuartalan, tekanan pada kinerja keuangan terlihat lebih signifikan pada triwulan ketiga 2026. Laba inti MTEL untuk periode kuartal III-2026 tercatat sebesar Rp 468 miliar, menandakan penurunan sebesar 14,2% jika dibandingkan dengan pencapaian pada kuartal sebelumnya (Quarter on Quarter/QoQ).
Dari sisi profitabilitas operasional, margin EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) perseroan juga mengalami kontraksi moderat. Pada sembilan bulan pertama 2026, margin EBITDA MTEL berada di level 82,9%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio margin EBITDA pada periode yang sama di tahun 2025 yang berada pada posisi 83,8%.
Pertumbuhan Jumlah Penyewa dan Dinamika Tarif Sewa Menara
Di tengah tekanan biaya operasional, portofolio bisnis utama MTEL di sektor penyewaan menara tetap menunjukkan pertumbuhan volume yang stabil. Hingga September 2026, total penyewa (tenant) menara Mitratel berhasil meningkat menjadi 65.037 tenant. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari posisi 61.987 tenant pada periode September 2025.
Peningkatan jumlah penyewa tersebut berdampak positif pada tingkat kolokasi menara. Rasio penyewaan menara (tenancy ratio) perseroan berhasil terkerek naik menjadi 1,60 kali dari sebelumnya 1,55 kali. Peningkatan tenancy ratio menunjukkan efisiensi penggunaan infrastruktur menara yang ada, di mana satu menara dapat dimanfaatkan oleh lebih dari satu operator seluler.
Namun demikian, pertumbuhan jumlah penyewa belum sepenuhnya tercermin secara linear pada kenaikan tarif sewa secara rata-rata. Rata-rata tarif sewa menara MTEL pada kuartal III-2026 berada di kisaran Rp 10 juta per bulan. Nilai ini mencerminkan penurunan tarif sebesar 1,6% secara YoY, yang mengindikasikan adanya kompetisi tarif maupun dinamika negosiasi ulang kontrak sewa di industri telekomunikasi.
Perkembangan Portofolio Bisnis Fiber
Selain bisnis menara dasar, MTEL terus mendorong diversifikasi portofolio melalui ekspansi bisnis serat optik (fiber). Bisnis fiber dicatat mengalami kinerja positif dengan kontribusi pendapatan mencapai Rp 157 miliar hingga kuartal III-2026, atau mengalami pertumbuhan sebesar 9% YoY.
Guna mendukung pertumbuhan lini bisnis ini, perseroan menambah panjang jaringan fiber sekitar 2.257 kilometer sepanjang periode tersebut. Tambahan ekspansi ini membuat total aset jaringan fiber yang dimiliki oleh MTEL mencapai 61.500 kilometer. Walaupun demikian, jika dilihat dari kontribusi secara keseluruhan terhadap pendapatan konsolidasian, porsi bisnis fiber saat ini masih tergolong relatif kecil.
Pandangan Analis Mengenai Konversi Pendapatan dan Optimalisasi Aset
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memberikan pandangannya terkait kondisi operasional dan keuangan MTEL. Menurut Elandry, tantangan utama yang dihadapi oleh perseroan saat ini bukan berasal dari sisi permintaan terhadap infrastruktur telekomunikasi, melainkan pada kemampuan manajemen dalam mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi profitabilitas yang lebih efisien.
Ia menjelaskan bahwa faktor pembengkakan biaya pemeliharaan jaringan, biaya operasional menara, serta beban ketenagakerjaan menjadi penekan utama bagi profitabilitas margin perusahaan. Kendati demikian, tingkat margin EBITDA MTEL yang bertahan pada level 82,9% dinilai masih relatif tinggi dan solid untuk standar industri menara telekomunikasi. Oleh karena itu, fokus utama perseroan ke depan harus tertuju pada langkah-langkah efisiensi operasional dan optimalisasi pemanfaatan aset yang ada.
Dari perspektif operasional, Elandry menilai ketercapaian 65.037 tenant dengan tenancy ratio 1,60 kali menegaskan bahwa ruang untuk monetisasi aset masih sangat terbuka lebar. Potensi lonjakan permintaan infrastruktur diperkirakan bakal bersumber dari perluasan jaringan 5G oleh operator seluler, implementasi Fixed Wireless Access (FWA), serta lonjakan kebutuhan konektivitas data nasional.
Dalam menjalankan strategi bisnisnya, langkah optimalisasi menara yang sudah berdiri dinilai jauh lebih krusial untuk diprioritaskan dibandingkan melakukan ekspansi pembuatan menara baru secara agresif. Strategi optimalisasi menara lama (kolokasi) dianggap lebih efektif untuk menggenjot utilisasi aset sekaligus memangkas porsi pengeluaran modal (capex) dan biaya operasional tambahan.
Mengenai lini bisnis fiber, jaringan serat optik memiliki posisi strategis sebagai penopang utama proses fiberisasi dalam mendukung arsitektur jaringan 5G. Namun, mengingat kontribusinya yang masih terbatas terhadap total pendapatan konsolidasian, keberhasilan monetisasi aset fiber dan percepatan akuisisi pelanggan baru menjadi kunci utama agar bisnis ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap profitabilitas grup.
Penyesuaian Proyeksi Riset dan Rekomendasi Saham
Mempertimbangkan kondisi perlambatan penambahan menara dan penyesuaian tarif sewa di pasar, Mirae Asset Sekuritas Indonesia melakukan revisi atas sejumlah asumsi proyeksi kinerja MTEL. Dalam riset terbarunya, Mirae Asset memangkas asumsi penambahan menara baru MTEL menjadi sekitar 600 unit per tahun, dari estimasi awal yang mencapai 900 unit per tahun. Selain itu, asumsi penurunan tarif sewa diperlebar menjadi 3%, dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 2%.
Seiring dengan perubahan asumsi dasar operasional tersebut, Mirae Asset Sekuritas merubah estimasi nilai wajar perusahaan dengan menurunkan target harga saham MTEL menjadi Rp 590 per saham dari target sebelumnya sebesar Rp 670 per saham. Meski menurunkan target harga, Mirae Asset tetap mempertahankan rekomendasi saham MTEL pada posisi Buy (Beli), mengingat potensi nilai fundamental perseroan yang masih kuat.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Elandry Pratama memproyeksikan kinerja keuangan MTEL pada kuartal IV-2026 masih akan bergerak dengan pertumbuhan yang terbatas. Penopang utama kinerja di akhir tahun diprediksi masih berasal dari penambahan jumlah penyewa secara bertahap serta kontribusi bisnis fiber.
Prospek kinerja perseroan diperkirakan baru akan mengalami pemulihan yang lebih kuat memasuki tahun 2027. Pendorong utamanya adalah realisasi ekspansi 5G yang lebih masif, penetrasi layanan FWA, serta peningkatan kebutuhan fiberisasi jaringan secara nasional. Kecepatan pemulihan laba MTEL akan sangat bergantung pada efektivitas efisiensi biaya internal serta kenaikan tingkat utilisasi atas menara dan jaringan fiber yang sudah terbangun.
Para investor diimbau untuk tetap mencermati sejumlah faktor risiko internal maupun eksternal. Risiko-risiko tersebut meliputi dinamika persaingan tarif sewa menara antar-operator, tingkat ketergantungan perseroan terhadap alokasi belanja modal (capex) dari para operator telekomunikasi, potensi kenaikan biaya operasional akibat inflasi atau pemeliharaan jaringan, serta hambatan pelaksanaan dalam strategi ekspansi bisnis fiber.
Secara keseluruhan, analisis fundamental menunjukkan bahwa MTEL masih memiliki daya tarik investasi yang baik untuk jangka menengah hingga jangka panjang. Daya tarik ini ditopang oleh karakteristik bisnis menara yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) yang stabil serta posisi perseroan yang strategis dalam menangkap peluang pertumbuhan infrastruktur digital nasional. Strategi investasi yang disarankan bagi pelaku pasar adalah melakukan pembelian saat terjadi pelemahan harga (buy on weakness) atau akumulasi secara bertahap dengan patokan target harga di level Rp 590 per saham.




