BANYU POS JAKARTA. Prospek kinerja emiten konstruksi hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong kenaikan harga bahan bangunan dan material impor.
Kondisi tersebut semakin membebani sektor konstruksi yang masih bergantung pada bahan baku dan peralatan dari luar negeri. Di saat yang sama, perubahan skema pembayaran dari pemasok turut menekan likuiditas perusahaan konstruksi.
Berdasarkan data Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), margin kontraktor yang umumnya berada di kisaran 10% kini semakin tergerus. Tekanan ini diperparah oleh kebijakan sejumlah pemasok yang mulai menerapkan pembayaran tunai.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai tekanan biaya material akibat depresiasi rupiah menjadi tantangan utama bagi sektor konstruksi, khususnya untuk proyek dengan skema lump sum.
“Kami menilai prospek sektor konstruksi masih menantang hingga akhir 2026. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya material impor dan menekan margin, terutama pada proyek lump sum,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Meski demikian, Sukarno melihat emiten yang memiliki backlog berkualitas, posisi kas yang kuat, serta proyek dengan mekanisme eskalasi harga masih berpeluang mempertahankan kinerjanya.
BEI Tegaskan Saham HSC Tak Bisa Masuk LQ45 dan IDX30, Ini Alasannya
Menurut dia, penerapan strategi penyesuaian harga atau price adjustment serta pengurangan kontrak lump sum cukup efektif untuk meredam tekanan terhadap margin keuntungan.
“Price adjustment membantu mengalihkan sebagian kenaikan biaya kepada pemberi kerja, sementara pengurangan kontrak lump sum membatasi risiko kenaikan biaya material,” jelasnya.
Namun, efektivitas strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan negosiasi dan skema kontrak yang dimiliki masing-masing emiten.
Di sisi lain, perubahan pola pembayaran dari pemasok menjadi tunai dinilai dapat memperburuk kondisi arus kas perusahaan.
“Hal ini meningkatkan kebutuhan modal kerja dan berpotensi menekan arus kas, terutama bagi emiten dengan likuiditas terbatas atau leverage tinggi,” tambahnya.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai tekanan terhadap sektor konstruksi tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi kondisi global.
Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung menjaga harga minyak tetap tinggi. Situasi tersebut berpotensi memicu inflasi global dan membuat suku bunga bertahan di level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Prospek Saham Astra (ASII) Masih Positif, Ditopang Pemulihan Otomotif
“Pelemahan rupiah akibat kondisi tersebut semakin membebani emiten konstruksi yang masih bergantung pada impor bahan baku maupun peralatan,” ujarnya.
Imam menambahkan, kenaikan suku bunga acuan juga menjadi tantangan tersendiri karena industri konstruksi merupakan sektor padat modal yang masih mengandalkan pembiayaan berbasis utang.
Meski demikian, ia menilai strategi price adjustment cukup efektif untuk menjaga profitabilitas perusahaan.
“Melalui skema ini, sebagian kenaikan biaya dapat dikompensasi sehingga margin proyek lebih terjaga,” jelasnya.
Emiten konstruksi yang dinilai memiliki fundamental kuat
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Imam menilai PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) sebagai salah satu emiten konstruksi yang memiliki fundamental solid.
“TOTL memiliki arus kas operasional yang konsisten positif, posisi kas memadai, serta tingkat utang yang sangat rendah,” ungkapnya.
Selain itu, fokus perusahaan pada proyek swasta dinilai memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengendalian biaya dan penyesuaian harga, sehingga mampu menjaga margin di tengah kenaikan harga material.
Rekomendasi Saham ADRO, CMRY, dan CPIN untuk Perdagangan Rabu (15/7)
Senada dengan Imam, Sukarno juga merekomendasikan sejumlah saham sektor konstruksi yang memiliki fundamental relatif kuat, yakni PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).
Menurutnya, ketiga emiten tersebut memiliki neraca keuangan yang lebih sehat serta eksposur yang lebih besar terhadap proyek-proyek swasta.
Sukarno merekomendasikan trading buy untuk saham TOTL dengan target harga Rp 1.180 per saham. Ia juga merekomendasikan akumulasi beli saham NRCA dengan target harga Rp 500 per saham dan trading buy saham SSIA dengan target Rp 1.760 per saham.
Bagi investor dengan profil risiko yang lebih agresif, Sukarno turut memberikan rekomendasi trading buy untuk saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dengan target harga Rp 175 per saham serta PT PP Tbk (PTPP) dengan target Rp 216 per saham.
Adapun Imam merekomendasikan beli saham TOTL dengan target harga Rp 1.110 per saham.




