Dolar AS Menguat, Bagaimana Proyeksi EUR, GBP, AUD hingga 2026?

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Penguatan signifikan pada dolar Amerika Serikat (AS) terus menjadi faktor tekanan dominan yang membebani kinerja mata uang utama dunia. Indeks dolar AS (DXY), sebuah tolok ukur yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang mayor, terpantau bertahan kuat di sekitar level 101. Kondisi ini secara serentak memicu pelemahan pada euro (EUR), poundsterling (GBP), dan dolar Australia (AUD) saat berhadapan dengan greenback, menunjukkan dominasi dolar di pasar valuta asing global.

Advertisements

Merujuk pada data yang dirilis oleh Bloomberg pada Senin (28/9/2026) pukul 16.21 WIB, pergerakan nilai tukar mata uang utama menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Valuta asing euro (EUR) diperdagangkan pada level 1,1375 per dolar AS, mencatat pelemahan sebesar 0,14% dalam sehari. Sementara itu, poundsterling (GBP) tercatat dihargai 1,3267 per dolar AS, yang merefleksikan pelemahan sebesar 0,17% dalam periode waktu yang sama. Adapun dolar Australia (AUD) bergerak di kisaran 0,7013 per dolar AS, turut mengalami depresiasi sebesar 0,14% dalam sehari.

Pada waktu yang bersamaan, Indeks dolar AS (DXY), sebagaimana dilaporkan oleh data Bloomberg hingga pukul 16.21 WIB, berada pada level 101,097. Angka ini menandakan penguatan sebesar 0,12% bagi dolar AS, memperkuat posisinya sebagai mata uang yang diminati di tengah dinamika pasar keuangan global. Kekuatan dolar AS yang persisten ini menjadi narasi utama yang membentuk pergerakan harga di pasar valuta asing.

Advertisements

Muhammad Amru Syifa, seorang pakar dari Research and Development ICDX, menjelaskan bahwa Indeks dolar AS (DXY) saat ini bertengger di sekitar level 101, sebuah posisi yang mendekati titik tertinggi dalam dua bulan terakhir. Penguatan dolar AS yang terjadi belakangan ini dipicu oleh serangkaian peristiwa ekonomi dan geopolitik yang saling terkait. Salah satu pemicu utamanya adalah kenaikan harga minyak dunia, yang merupakan konsekuensi langsung dari ketegangan geopolitik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran.

Kenaikan harga minyak, pada gilirannya, secara signifikan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi yang lebih tinggi dan berkepanjangan. Kekhawatiran inflasi ini memiliki implikasi besar terhadap ekspektasi kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral utama dunia. Dalam konteks ini, kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi di kalangan investor bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, masih memiliki ruang dan dorongan kuat untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Kebijakan ketat ini, yang umumnya melibatkan kenaikan suku bunga, bertujuan untuk menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas harga.

Amru juga mengemukakan bahwa pergerakan mata uang utama saat ini sebagian besar masih sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Sentimen pasar semakin diperkuat oleh pernyataan dari sejumlah pejabat The Fed yang secara konsisten menyoroti risiko inflasi yang persisten dan belum mereda sepenuhnya. Dengan demikian, fokus utama pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang akan datang. Data-data ekonomi penting ini akan menjadi penentu krusial dalam memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter The Fed berikutnya, yang pada gilirannya akan sangat memengaruhi pergerakan mata uang global.

Meskipun dolar AS menjadi faktor penekan umum, Amru menambahkan bahwa setiap mata uang utama memiliki faktor tambahan yang berbeda-beda dalam menghadapi tekanan tersebut. Untuk mata uang euro, tekanan utama yang dirasakan tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS yang berkelanjutan, tetapi juga diperparah oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kenaikan harga energi. Kenaikan harga energi ini diperkirakan akan memicu peningkatan inflasi di kawasan euro, yang berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada daya beli euro dan menguji kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB).

Sementara itu, poundsterling Inggris masih terus terbebani oleh kekuatan dolar AS yang tak tertandingi. Namun, mata uang Inggris ini memiliki semacam penyangga yang signifikan. Sikap Bank of England (BoE) yang masih membuka ruang untuk pengetatan kebijakan moneter di masa mendatang menjadi salah satu faktor yang memberikan dukungan fundamental bagi GBP. Potensi pengetatan kebijakan ini, yang dapat mencakup kenaikan suku bunga, dapat membuat poundsterling menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

Adapun dolar Australia menghadapi tekanan ganda dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut. Namun, AUD masih mendapatkan dukungan dari beberapa faktor internal dan eksternal. Ekspektasi terhadap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) yang lebih ketat, yang bertujuan untuk mengendalikan inflasi domestik, memberikan fondasi yang kokoh. Selain itu, prospek hubungan perdagangan yang membaik antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga dapat memberikan dorongan positif bagi dolar Australia, mengingat ketergantungan Australia pada sektor ekspor komoditas ke Tiongkok.

Ketidakpastian global yang disebut sebagai faktor penekan bagi dolar Australia mencakup berbagai elemen, mulai dari ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas global, hingga potensi perlambatan ekonomi di mitra dagang utama. Dalam konteks ini, prospek hubungan perdagangan AS-Tiongkok menjadi sangat relevan bagi AUD. Sebagai salah satu eksportir komoditas terbesar di dunia, Australia sangat sensitif terhadap dinamika perdagangan global, terutama antara dua ekonomi terbesar tersebut. Hubungan yang stabil dan prospektif antara AS dan Tiongkok cenderung mendukung permintaan komoditas, yang pada gilirannya menguntungkan ekonomi Australia dan mata uangnya. Oleh karena itu, optimisme terhadap hubungan dagang ini dapat menjadi penyeimbang terhadap tekanan dari dolar AS yang kuat dan ketidakpastian pasar yang lebih luas.

Meskipun euro (EUR), poundsterling (GBP), dan dolar Australia (AUD) telah menunjukkan pelemahan yang nyata dalam beberapa pekan terakhir, kondisi tersebut belum secara otomatis membuat ketiga mata uang ini tergolong murah secara valuasi. Penilaian terhadap valuasi suatu mata uang adalah proses yang kompleks dan memerlukan pertimbangan holistik terhadap berbagai faktor fundamental yang mendasarinya. Amru menjelaskan bahwa untuk menentukan apakah suatu mata uang dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah, investor dan analis perlu secara cermat mempertimbangkan sejumlah indikator ekonomi makro dan kebijakan.

Faktor-faktor kunci yang harus diperhatikan dalam penilaian valuasi mata uang mencakup perbedaan suku bunga antarnegara, tingkat inflasi relatif, laju pertumbuhan ekonomi domestik, serta arah kebijakan moneter yang diambil oleh masing-masing bank sentral. Perbedaan suku bunga, misalnya, dapat memengaruhi daya tarik suatu mata uang bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi. Inflasi yang tinggi dapat mengikis nilai riil suatu mata uang, sementara pertumbuhan ekonomi yang kuat cenderung mendukung apresiasi mata uang. Kebijakan bank sentral, seperti pengetatan atau pelonggaran moneter, adalah alat utama yang digunakan untuk memengaruhi faktor-faktor ini dan pada akhirnya, valuasi mata uang.

Dalam kondisi volatilitas pasar yang masih tinggi, para investor disarankan untuk menerapkan pendekatan yang lebih hati-hati dan strategis dalam menentukan strategi berinvestasi mereka di pasar valuta asing. Volatilitas tinggi berarti harga aset dapat bergerak naik atau turun secara drastis dalam waktu singkat, menciptakan lingkungan yang penuh risiko namun juga peluang. Oleh karena itu, pengambilan keputusan investasi harus didasarkan pada analisis yang cermat dan strategi yang terencana, bukan hanya sekadar reaksi terhadap pergerakan pasar harian.

Amru lebih lanjut menyarankan bahwa dalam lingkungan pasar yang ditandai oleh volatilitas yang persisten, pendekatan akumulasi secara bertahap jauh lebih relevan dan bijaksana dibandingkan dengan mengambil posisi investasi secara sekaligus atau dalam jumlah besar dalam satu waktu. Strategi akumulasi bertahap memungkinkan investor untuk menyebarkan risiko pembelian mereka dari waktu ke waktu, mengurangi dampak dari fluktuasi harga jangka pendek. Selain itu, strategi ini juga memberikan fleksibilitas bagi investor untuk menunggu konfirmasi yang lebih jelas dari data ekonomi yang akan datang dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter sebelum membuat komitmen investasi yang lebih besar.

Untuk pasangan mata uang EUR/USD, Amru memproyeksikan bahwa prospeknya hingga akhir tahun 2026 masih akan sangat bergantung pada beberapa faktor krusial. Ini termasuk perkembangan kebijakan moneter The Fed di Amerika Serikat, tingkat inflasi AS yang terus dipantau, fluktuasi harga energi global, dan kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Dengan mempertimbangkan dinamika kompleks ini, secara indikatif, pasangan EUR/USD dapat diperdagangkan di kisaran 1,14 hingga 1,20 hingga akhir tahun, dengan titik tengah konsensus yang diperkirakan sekitar 1,16.

Sementara itu, untuk pasangan GBP/USD, rentang proyeksi yang diberikan adalah antara 1,2700 hingga 1,4000. Prospek poundsterling Inggris di masa mendatang akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank of England (BoE) dan The Fed. Selain itu, dampak dari harga energi terhadap tingkat inflasi di Inggris juga akan menjadi faktor penentu utama yang membentuk pergerakan nilai tukar GBP/USD.

Adapun untuk pasangan AUD/USD, konsensus pasar memperkirakan nilai tukarnya akan berada di sekitar 0,7143 pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini dilengkapi dengan rentang perkiraan yang lebih luas, yaitu antara 0,6900 hingga 0,7500. Pergerakan AUD/USD akan terus dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, sentimen risiko pasar, serta kebijakan moneter yang diambil oleh Reserve Bank of Australia (RBA) dan The Fed.

Advertisements

Also Read

Tags