KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang melemah signifikan pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Indeks acuan pasar saham Indonesia ini tercatat turun 94,03 poin, atau setara dengan penurunan sebesar 1,51%, mengakhiri sesi perdagangan di level 6.147,86. Penurunan ini mencerminkan adanya tekanan jual yang kuat di pasar, dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, yang secara kolektif mempengaruhi sentimen investor.
Proyeksi untuk hari perdagangan berikutnya, Selasa, 29 September 2026, menunjukkan bahwa IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksinya. Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menyoroti pentingnya pola teknikal dalam pergerakan indeks. Menurut Reza, penembusan neckline dari pola head and shoulders di level 6.375 merupakan sinyal teknikal yang mengkhawatirkan. Pola head and shoulders sendiri adalah formasi grafik yang sering diinterpretasikan sebagai indikator pembalikan tren dari naik menjadi turun, dan penembusan garis leher (neckline) mengonfirmasi potensi kelanjutan tren penurunan tersebut. Kondisi ini memberikan peringatan kepada pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap pergerakan harga saham secara keseluruhan.
Dalam analisis teknikal, level support dan resistance menjadi krusial untuk mengidentifikasi potensi pergerakan harga. Reza Diofanda menjelaskan bahwa support terdekat untuk IHSG berada di level 6.110, yang berfungsi sebagai batas psikologis di mana tekanan jual diperkirakan akan mereda dan harga berpotensi memantul. Apabila level ini ditembus, support berikutnya yang lebih rendah dan signifikan berada di 6.030. Di sisi lain, level resistance—area di mana tekanan jual cenderung meningkat dan membatasi kenaikan harga—teridentifikasi di area 6.185, kemudian berlanjut ke kisaran 6.230–6.270. Pemahaman terhadap level-level ini sangat penting bagi investor dan trader untuk merancang strategi masuk dan keluar pasar, serta mengelola risiko investasi mereka.
Tekanan yang membayangi pasar saham Indonesia tidak hanya berasal dari dinamika teknikal internal, melainkan juga diperparah oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik yang kompleks. Di ranah global, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi perhatian utama. Konflik semacam ini seringkali memicu ketidakpastian di pasar komoditas, terutama minyak, dan dapat mengganggu rantai pasokan global, yang pada gilirannya berdampak pada inflasi dan biaya produksi perusahaan. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menambah beban bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, karena dapat memicu kenaikan inflasi dan biaya operasional industri.
Faktor eksternal lainnya yang memberikan dampak signifikan adalah tingginya yield US Treasury atau imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kenaikan yield obligasi AS seringkali membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik di mata investor global, terutama jika dibandingkan dengan investasi yang lebih aman dan memberikan imbal hasil yang kompetitif. Kondisi ini dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman dan stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pergerakan imbal hasil obligasi AS ini menjadi barometer penting yang senantiasa dipantau oleh pelaku pasar.
Sementara itu, dari sisi domestik, pelaku pasar juga tengah beradaptasi dengan kebijakan baru yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan tersebut berupa penurunan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas pasar dan memberikan fleksibilitas lebih bagi perusahaan dengan harga saham yang sangat rendah, serta menarik lebih banyak investor ritel untuk berpartisipasi. Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham-saham berharga rendah atau saham “gorengan”, yang rentan terhadap spekulasi dan pergerakan harga yang cepat dan ekstrem. Adaptasi terhadap regulasi baru ini memerlukan pemahaman mendalam tentang potensi risiko dan peluang yang ditawarkannya.
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi oleh berbagai tekanan baik dari sentimen eksternal maupun domestik, bukan berarti seluruh pasar saham kehilangan daya tariknya. Justru dalam kondisi pasar yang bergejolak, analisis fundamental dan teknikal yang cermat menjadi semakin penting untuk mengidentifikasi peluang investasi yang spesifik. Beberapa saham, berdasarkan analisis teknikal yang mendalam, masih memiliki potensi untuk diperdagangkan dan memberikan keuntungan di tengah koreksi pasar. Analisis ini membantu investor untuk tetap selektif dan fokus pada saham-saham yang menunjukkan indikator kekuatan atau potensi pembalikan tren, terlepas dari pergerakan indeks secara keseluruhan.
Berikut adalah beberapa rekomendasi teknikal untuk saham-saham pilihan, yaitu MEDC, BBCA, dan DSSA, yang dapat dicermati oleh investor untuk perdagangan Selasa, 29 September 2026. Rekomendasi ini didasarkan pada pola grafik, indikator momentum, serta level-level penting yang telah diidentifikasi oleh para analis pasar. Pemilihan saham-saham ini menekankan pada potensi pergerakan harga jangka pendek hingga menengah yang dapat dimanfaatkan dalam strategi perdagangan yang adaptif terhadap kondisi pasar saat ini.
Saham GOTO Tertekan Usai BEI Turunkan Batas Harga Jadi Rp 1, Cek Support Berikutnya
1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) secara teknikal mulai menunjukkan tanda-tanda rebound, atau pembalikan arah dari tren turun menjadi naik. Namun, momentum penguatan ini belum sepenuhnya terkonfirmasi. Hal ini disebabkan karena saham MEDC masih menghadapi tekanan jual yang signifikan di area resistance, di mana banyak investor cenderung mengambil keuntungan atau mengurangi posisi mereka. Kondisi ini menciptakan pertarungan antara pembeli dan penjual, yang membuat pergerakan harga menjadi fluktuatif dan membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mencatat bahwa harga saham MEDC terakhir berada di level Rp 1.495. Dari sisi indikator teknikal, Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di bawah garis sinyalnya, dengan histogram yang menunjukkan nilai negatif. Kondisi MACD semacam ini umumnya diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa momentum kenaikan harga masih lemah atau bahkan menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut. Investor perlu mencermati perkembangan indikator ini untuk mengukur kekuatan tren yang sedang berlangsung.
Reza Diofanda mengidentifikasi level support terdekat untuk saham MEDC berada di Rp 1.440, yang merupakan area di mana tekanan beli diperkirakan akan muncul. Apabila level ini tidak mampu menahan tekanan jual, support lanjutan yang lebih kuat berada di Rp 1.415. Sementara itu, level resistance terdekat yang perlu ditembus MEDC untuk melanjutkan penguatan adalah Rp 1.520, dan jika berhasil, target berikutnya berada di Rp 1.580. Level-level ini menjadi panduan penting bagi investor untuk menentukan titik masuk dan keluar.
Berdasarkan analisis teknikal ini, Reza merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham MEDC. Strategi ini menyarankan investor untuk melakukan pembelian saat harga saham mengalami koreksi atau penurunan ke area support yang kuat, yaitu di kisaran Rp 1.440–Rp 1.460. Harapannya, setelah mencapai level tersebut, harga akan memantul kembali dan melanjutkan penguatan. Adapun target penguatan yang diharapkan dari strategi ini berada di kisaran Rp 1.520–Rp 1.580. Investor juga disarankan untuk mencermati level Rp 1.415 sebagai batas risiko atau stop loss, guna membatasi potensi kerugian apabila harga saham MEDC kembali mengalami tekanan dan menembus level support tersebut.
Rekomendasi: Buy on Weakness
Support: Rp 1.440–Rp 1.415
Resistance: Rp 1.520–Rp 1.580
Area Buy: Rp 1.440–Rp 1.460
Target: Rp 1.520–Rp 1.580
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan formasi pola doji star candle pada grafik harga. Pola doji star adalah formasi lilin Jepang yang mengindikasikan keragu-raguan atau ketidakpastian di pasar, di mana harga pembukaan dan penutupan hampir sama. Ketika pola ini muncul di batas bawah area sideways, seperti yang terjadi pada BBCA, hal ini sering diinterpretasikan sebagai potensi adanya pembalikan tren ke atas atau setidaknya menunjukkan bahwa tekanan jual mulai melemah dan pergerakan harga cenderung terbatas dalam kisaran tertentu. Kondisi ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kekuatan pembeli dan penjual pada level harga tersebut.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengamati bahwa pergerakan harga saham BBCA membentuk pola doji star candle dan berada pada batas terendah di area sideways. Namun, yang menarik adalah indikator volume saham BBCA terus mengalami peningkatan. Peningkatan volume di tengah pola doji star dan posisi di batas bawah sideways sering diartikan sebagai indikasi akumulasi, yaitu aktivitas pembelian oleh investor besar yang secara bertahap mengumpulkan saham. Dengan adanya akumulasi dan volume yang meningkat, Nafan berharap bahwa potensi penurunan (limited downside) untuk saham BBCA akan semakin terbatas, membuka peluang untuk pergerakan harga yang lebih positif dalam waktu dekat.
Berdasarkan analisis ini, Nafan merekomendasikan strategi akumulasi beli untuk saham BBCA. Strategi akumulasi beli menyarankan investor untuk secara bertahap membeli saham pada berbagai level harga di area support, dengan tujuan membangun posisi investasi jangka panjang atau menengah. Adapun area support yang diidentifikasi berada di level Rp 6.050, yang diharapkan dapat menjadi pijakan bagi harga untuk memantul. Sementara itu, level resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi penguatan lebih lanjut berada di Rp 6.375. Level resistance ini akan menjadi target harga awal bagi investor yang melakukan akumulasi.
Rekomendasi: Akumulasi Beli
Support: Rp 6.050
Resistance: Rp 6.375
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta
3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) saat ini masih bergerak di bawah garis Moving Average 20 (MA20) pada grafik harian. Posisi harga di bawah MA20 secara umum merupakan indikator teknikal yang menunjukkan bahwa tren turun masih mendominasi pergerakan harga saham dalam jangka pendek hingga menengah. Kondisi ini membuka peluang bagi saham DSSA untuk melanjutkan koreksi menuju area support berikutnya, karena tekanan jual cenderung lebih kuat dibandingkan tekanan beli. Investor perlu memperhatikan sinyal tren ini untuk menghindari posisi yang berlawanan arah dengan tren utama.
Technical Analyst Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menegaskan bahwa DSSA masih berada di bawah MA20, sehingga potensi tren turun berpotensi berlanjut. Namun, Ivan juga melihat adanya peluang untuk terjadinya rebound atau pemantulan harga, asalkan harga saham DSSA mampu bertahan di atas level Rp 985. Level ini menjadi batas krusial yang menentukan apakah tren turun akan berlanjut ataukah ada potensi pembalikan arah dalam jangka pendek. Jika level Rp 985 mampu dipertahankan, hal tersebut akan menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga selanjutnya.
Lebih lanjut, Ivan menjelaskan bahwa dalam struktur minor pergerakan harga, terlihat ada potensi penguatan jangka pendek menuju kisaran Rp 1.165–Rp 1.220. Potensi ini dapat terwujud apabila harga saham DSSA tidak kembali turun di bawah level Rp 985. Struktur minor ini menunjukkan adanya kekuatan beli yang mulai terbentuk dalam rentang waktu yang lebih pendek, meskipun tren utama masih cenderung turun. Investor yang berorientasi jangka pendek dapat memanfaatkan potensi penguatan ini dengan strategi yang tepat.
Berdasarkan analisis tersebut, Ivan merekomendasikan strategi trading buy untuk saham DSSA. Strategi trading buy cocok untuk investor yang mencari keuntungan dari pergerakan harga jangka pendek. Level support yang harus diperhatikan adalah Rp 985, yang berfungsi sebagai titik batas risiko. Sementara itu, level resistance yang menjadi target penguatan berada di Rp 1.165 dan Rp 1.220. Investor yang menerapkan strategi ini disarankan untuk disiplin dalam menentukan titik masuk dan keluar, serta mengelola risiko dengan ketat, mengingat sifat trading buy yang memanfaatkan fluktuasi harga dalam waktu singkat.
Rekomendasi: Trading Buy
Support: Rp 985
Resistance: Rp 1.165–Rp 1.220
Target: Rp 1.165–Rp 1.220
Technical Analyst Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova
Kuota Produksi Batubara Diperketat, Aset Batubara Strategis Jadi Sasaran Akuisisi




