BANYU POS – JAKARTA. Pelaku pasar tengah mencermati perubahan komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang baru. Dalam pembaruan tersebut, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penurunan peringkat, berpindah dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes. Langkah ini tentu menarik perhatian, mengingat posisi INDF sebagai emiten besar di sektor konsumer.
Menanggapi hal ini, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menyatakan bahwa penurunan status INDF berpotensi memicu terjadinya arus keluar pasif (passive outflow). Hal ini lumrah terjadi seiring dengan penyesuaian yang dilakukan oleh dana-dana indeks. Sukarno menjelaskan lebih lanjut, tekanan yang muncul bersifat teknikal dan cenderung terkonsentrasi selama periode rebalancing. Skala dampaknya, imbuh Sukarno, akan sangat bergantung pada bobot saham INDF sebelumnya dan tingkat eksposur dana pasif yang mengikutinya.
Sukarno mengamati bahwa sebagian dari tekanan jual ini telah termanifestasi pada harga saham INDF. Hal tersebut jelas terlihat dari aksi net sell yang dilakukan oleh investor asing sepanjang pekan terakhir. Selain itu, risiko pelemahan harga saham INDF masih terbuka lebar, terutama jika melihat kondisi depresiasi rupiah. Pelemahan mata uang Garuda berpotensi meningkatkan beban kurs bagi perseroan, yang bisa menjadi sentimen negatif tambahan.
Meskipun mengalami penurunan kelas dalam indeks MSCI, Sukarno menegaskan bahwa perubahan klasifikasi ini diyakini tidak akan berdampak signifikan terhadap likuiditas maupun volatilitas saham INDF. Alasan utamanya adalah posisi INDF sebagai emiten konsumer dengan kapitalisasi pasar yang besar serta tingkat likuiditas yang senantiasa terjaga dengan baik.
Dari sudut pandang analisis teknikal saham, INDF saat ini memiliki area support kuat di kisaran Rp 6.550 hingga Rp 6.575, dengan level resistance di Rp 7.000 per saham. Dengan harga terakhir Rp 6.725, saham ini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (Price Earnings Ratio/PER) sebesar 5,6 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value/PBV) 0,84 kali. Sukarno secara tegas menyatakan, secara valuasi saham, INDF masih tergolong undervalued. Kondisi ini membuka lebar peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi pembelian bagi tujuan investasi jangka menengah.
Prospek positif ke depan bagi saham INDF didukung oleh beberapa katalis penting, termasuk potensi perbaikan kinerja keuangan perusahaan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan daya tarik dividend yield yang kian meningkat. Oleh karena itu, Sukarno merekomendasikan para investor untuk melakukan strategi accumulate buy pada saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dengan menargetkan harga Rp 7.500 per saham.




