
BANYU POS – , JAKARTA – Aksi net sell asing di pasar saham Tanah Air, dinilai turut memberikan kontribusi dalam menekan kinerja rupiah yang belakangan telah ambles ke level lebih dari Rp17.000. Kondisi ini tampak sebagai lingkaran tak berujung, lantaran pelemahan rupiah turut menekan minat investor terhadap pasar saham RI.
Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah ambles 19,40% sepanjang tahun berjalan 2025 (year-to-date/YtD). Sejalan dengan itu, net sell asing di pasar saham turut menguap Rp37,60 triliun YtD.
Head of Equity Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menerangkan aksi net sell asing di pasar modal telah secara signifikan mempengaruhi pergerakan rupiah, lantaran mendorong konversi aset rupiah ke dolar AS.
”Apalagi ketika outflow terjadi bersamaan di pasar saham dan pasar obligasi, efeknya ke rupiah bisa menjadi lebih signifikan,” katanya kepada Bisnis, dikutip Minggu (10/5/2026).
Dengan melemahnya rupiah, Wafi menilai risiko untuk kinerja pasar saham cenderung menjadi lebih besar. Hal itu lantaran pelemahan rupiah berisiko menekan persepsi investor asing terhadap pasar saham Tanah Air.
Wafi bahkan menilai jika rupiah terus melemah ke level di atas Rp17.000 per dolar AS, investor asing akan cenderung lebih defensif lantaran return rate berisiko mudah tergerus oleh nilai tukar rupiah.
”Untuk paruh kedua 2026, saya lihat IHSG masih berpotensi volatile dengan kecenderungan sideways cenderung rebound terbatas jika stabilitas rupiah mulai membaik dan suku bunga global turun. Jadi arah market masih sangat bergantung pada flow asing dan stabilitas makro,” tambah Wafi.
: Peluang TLKM, ISAT, dan EXCL di Lelang Frekuensi ‘Jumbo’ Komdigi
Salah satu yang dinilai paling terdampak dari pelemahan rupiah adalah sektor yang memiliki eksposur besar terhadap utang dalam denominasi dolar AS, seperti aviasi, petrokimia, otomotif, hingga beberapa sektor konsumer. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor atau komoditas dinilai menjadi lebih defensif.
Wafi merekomendasikan investor untuk tetap fokus pada saham dengan fundamental kuat dan minim risiko kurs, seperti BBRI, BMRI, hingga TLKM. Saham komoditas ADRO juga dinilai menarik sebagai hedging terhadap pelemahan rupiah.
Adaro Energy Tbk. – TradingView
Tidak hanya di pasar saham, aksi net sell juga terjadi di pasar SBN RI. Hingga April 2026, dana asing tercatat tersisa senilai Rp856,14 triliun atau menguap Rp23,79 triliun pada periode Januari—April 2026.
Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI Salvian Fernando menilai net sell di pasar SBN memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pelemahan rupiah. Hal itu terutama disebabkan lantaran SBN merupakan salah satu instrumen utama pintu masuk modal asing di RI.
”Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Salvian menilai, pelemahan rupiah yang saat ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor domestik atau aksi net sell investor asing di pasar SBN semata. Melainkan, datang dari tekanan eksternal yang masih mendominasi minat pasar lantaran tingginya suku bunga global yang bertahan lebih lama.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara Iran dan AS juga turut membuat investor memburu aset safe haven untuk mengamankan dana mereka di tengah pasar yang volatil.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




