Emiten Grup Bakrie mendapatkan berkah pada rezim presiden Prabowo Subianto. Sebanyak empat emiten grup Bakrie kini menggenggam berbagai proyek strategis di dalam atau luar negeri, mulai dari sektor pertambangan hingga energi bersih.
Salah satunya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang baru saja berinvestasi di perusahaan minyak dan gas (migas) di Amerika Serikat HighPeak Energy Inc. (HPK) mencapai US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun. Aksi investasi ini dilakukan ENRG bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia yang juga berencana menanamkan modal US$ 250 juta.
Dengan begitu, total investasi keduanya di HPK mencapai US$ 450 juta. Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi ENRG untuk memperluas bisnisnya di pasar migas internasional.
Investasi ENRG dilakukan melalui pembelian saham preferen konversi yang baru diterbitkan HPK. Saham tersebut dapat dikonversi menjadi saham biasa sesuai dengan ketentuan yang disepakati kedua pihak.
Selain ENRG, emiten Grup Bakrie lainnya yang menadah berkah selama pemerintahan Prabowo adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) pada Agustus 2026. Perseroan memperoleh dukungan pendanaan dari Danantara untuk mengembangkan bisnis kendaraan listrik.
Danantara menyiapkan pendanaan Rp 2 triliun untuk mendukung peningkatan produksi bus dan truk listrik VKTR. Pendanaan tersebut menggunakan skema utang yang dapat dikonversi menjadi saham, sehingga Danantara berpeluang menjadi pemegang saham VKTR pada masa mendatang.
Dalam skema ini, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku induk Grup Bakrie bertindak sebagai penjamin atas rencana pendanaan tersebut.
Dukungan pun diberikan Presiden Prabowo secara langsung dengan ikut meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 9 April 2026.
Perusahaan Bakrie lainnya, BNBR melalui anak usahanya yaitu Bakrie Power terpilih untuk menggarap proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) Danantara di wilayah Surabaya Raya.
Nilai investasi proyek fasilitas tersebut diperkirakan berkisar Rp 2,3 triliun hingga Rp 3,2 triliun per fasilitas. Proyek ini menjadi salah satu peluang bagi Grup Bakrie untuk memperluas bisnis di sektor energi bersih.
BNBR juga memperluas bisnis infrastruktur melalui akuisisi aset Jalan Tol Cimanggis-Cibitung pada 2025. Selain itu, perseroan disebut berpotensi terlibat dalam pengembangan proyek Blok Masela.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan memperkuat bisnis hilirisasi batu bara melalui proyek produksi metanol. Dua anak usahanya, PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang mengembangkan proyek tersebut melalui perusahaan patungan PT Bumi Etam Chemical (BEC).
Proyek yang berlokasi di Batuta Chemical Industrial Park, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur itu masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan diproyeksikan dapat menghemat devisa hingga Rp 7,1 triliun per tahun.
Ekspansi bisnis dan keterlibatan dalam proyek strategis berjalan beriringan dengan pergerakan saham sejumlah emiten Grup Bakrie bangkit setelah sejak 2021 bergerak landai.
Saham BUMI terpantau merangkak naik pada November 2025 dan sempat mencapai Rp 464 per saham pada 9 Januari 2026. Kendati demikian, sahamnya saat ini bertengger di level Rp 180 pada penutupan perdagangan Jumat (9/10). Sebelumnya, saham perusahaan batu bara ini selama beberapa tahun bergerak di kisaran level 51 hingga 110 sejak 2021 sampai awal 2025.
Saham VKTR juga mengalami lonjakan. Setelah bergerak di kisaran Rp 80 hingga Rp 100 sejak 2023, saham perusahaan kendaraan listrik itu mulai bangkit pada September 2025 dan sempat menyentuh Rp 1.045 per saham pada Januari 2026. Saat ini sahamnya parkir di level 645 pada perdagangan kemarin.
Adapun saham BNBR berada di kisaran Rp 40 sejak 2021 dan dan menyentuh Rp 17. Namun sahamnya melonjak hingga Rp 222 pada Januari 2026. Saat ini sahamnya diperdagangkan di level Rp 72 per saham.
Analis pasar modal dan komoditas Wahyu Laksono menilai, investor perlu mencermati keberlanjutan proyek strategis yang melibatkan Grup Bakrie serta dampaknya terhadap kinerja keuangan masing-masing emiten.
Menurut dia, proyek yang berkaitan dengan transisi energi, kendaraan listrik, hilirisasi dan infrastruktur dapat memiliki prospek jangka panjang karena sejalan dengan agenda pembangunan nasional. Proyek-proyek tersebut juga tidak selalu berakhir ketika pemerintahan berganti.
Kendati demikian, investor tetap perlu memperhitungkan risiko ketergantungan pada dukungan pemerintah atau kedekatan politik. Risiko ini muncul apabila katalis utama kenaikan harga saham lebih bertumpu pada sentimen politik daripada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.
“Jangan hanya membeli saham Grup Bakrie karena faktor sentimen “dekat penguasa” atau masuknya Danantara. Pastikan ekspansi tersebut benar-benar mendongkrak laba bersih (earnings) dan arus kas operasional emiten secara riil,” kata Wahyu kepada Katadata, dikutip Sabtu (10/10).
Mengenai sederet emiten Grup Bakrie yang mendapat bagian menggarap PSN, Wahyu menjelaskan bahwa tidak serta-merta hal tersebut dapat diartikan sebagai bantuan politik. Sebagai lembaga pengelola investasi strategis negara, Danantara dapat berinvestasi pada sektor yang sejalan dengan prioritas pembangunan, termasuk energi, dekarbonisasi dan kendaraan listrik.
Karena itu, investor perlu memastikan bahwa proyek yang diperoleh emiten benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis. Salah satu indikator yang perlu dicermati adalah apakah ekspansi tersebut mampu meningkatkan laba bersih dan arus kas operasional secara berkelanjutan.
Wahyu juga mengingatkan agar investor memperhatikan struktur pendanaan proyek. Penggunaan utang yang berlebihan dapat membebani neraca keuangan perusahaan, terutama jika proyek membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan pendapatan.
“Periksa apakah ekspansi atau proyek yang didukung pemerintah menggunakan skema utang korporasi yang sehat atau membebani neraca keuangan emiten dalam jangka panjang,” ujar Wahyu.




