BI: Kegiatan Usaha Positif Q3 2026, Namun SBT Turun ke 11,46%

Hikma Lia

Bank Indonesia (BI) merilis laporan terbaru mengenai Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk periode triwulan III 2026. Hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa kinerja dan kegiatan dunia usaha di Indonesia secara keseluruhan tetap berada dalam fase pertumbuhan positif. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya, laju pertumbuhan aktivitas bisnis secara nasional tercatat mengalami perlambatan. Hal ini terlihat dari penurunan indikator utama berupa nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang berada di posisi 11,46 persen pada triwulan III 2026, bergerak turun dari capaian triwulan II 2026 yang sebesar 12,97 persen.

Advertisements

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan keterangan resmi terkait dinamika perkembangan tersebut pada Senin (19/10). Ia menegaskan bahwa kendati terjadi penurunan angka indikator secara persentase, kinerja operasional di berbagai sektor bisnis riil tetap terjaga dengan baik. Hasil dari penelusuran Survei Kegiatan Dunia Usaha memperlihatkan bahwa seluruh lapangan usaha yang dipantau oleh Bank Indonesia masih sanggup menorehkan pencapaian kinerja yang positif sepanjang rentang waktu Juli hingga September 2026.

Di tengah kondisi perlambatan secara umum, terdapat sejumlah sektor lapangan usaha yang berhasil mencatatkan peningkatan kinerja secara signifikan pada triwulan III 2026. Sektor industri pengolahan atau manufaktur menjadi salah satu penggerak utama yang mengalami kenaikan performa, dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai 1,53 persen. Capaian ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai SBT industri pengolahan pada triwulan II 2026 yang sebesar 1,34 persen.

Advertisements

Penguatan kinerja usaha juga tercatat pada sektor-sektor strategis lainnya di tanah air. Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib berhasil membukukan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,09 persen. Selanjutnya, sektor konstruksi turut menunjukkan pertumbuhan positif dengan raihan SBT sebesar 0,92 persen. Sektor pengadaan listrik dan gas mencatatkan nilai SBT sebesar 0,69 persen, sementara sektor real estat mencatatkan nilai SBT sebesar 0,34 persen.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan performa pada sektor-sektor tersebut didorong oleh kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal. Peningkatan aktivitas bisnis secara garis besar dipicu oleh berlanjutnya berbagai proyek pengerjaan infrastruktur, termasuk di dalamnya pengerjaan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terus berjalan di berbagai daerah. Di samping itu, proyek pembangunan dan penguatan jaringan listrik nasional turut memberikan dampak positif secara langsung terhadap aktivitas produksi. Faktor lain yang turut menjadi penggerak adalah realisasi penyerapan anggaran pemerintah yang semakin terakselerasi sepanjang triwulan ketiga.

Sementara itu, beberapa sektor usaha riil lainnya dilaporkan tetap tumbuh di zona positif, meskipun laju ekspansinya tercatat melambat dibanding periode triwulan sebelumnya. Sektor transportasi dan pergudangan mencatatkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 0,40 persen. Pada saat yang sama, sektor informasi dan komunikasi membukukan nilai SBT sebesar 0,57 persen, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan raihan SBT sebesar 0,37 persen pada triwulan III 2026.

Dilihat dari indikator operasional dan efisiensi produksi, tingkat penggunaan atau kapasitas produksi terpakai pada triwulan III 2026 tercatat berada di level 73,75 persen. Angka kapasitas produksi terpakai ini menunjukkan sedikit penurunan atau berada tipis di bawah catatan triwulan II 2026 yang sebesar 73,80 persen. Meskipun secara keseluruhan mengalami koreksi tipis, peningkatan kapasitas produksi terpakai tercatat terjadi pada lapangan usaha tertentu, terutamanya pada industri pengolahan, sektor pengadaan listrik dan gas, serta sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan kegiatan daur ulang.

Dari perspektif keuangan, kondisi finansial para pelaku dunia usaha secara umum menunjukkan indikasi perbaikan dan berada dalam status yang relatif sehat. Indikator likuiditas perusahaan mencatatkan peningkatan dengan nilai saldo bersih sebesar 15,56 persen pada triwulan III 2026, merangkak naik dibandingkan dengan pencapaian triwulan II 2026 yang berada di angka 15,03 persen.

Sejalan dengan perbaikan likuiditas, indikator rentabilitas atau tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasional juga menunjukkan kinerja yang kian menguat. Nilai saldo bersih untuk indikator rentabilitas pada triwulan III 2026 melonjak hingga mencapai 13,11 persen. Angka ini secara signifikan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan raihan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 11,87 persen.

Mengenai ketersediaan dana dan aksesibilitas terhadap fasilitas pembiayaan, Bank Indonesia menilai bahwa akses kredit perbankan bagi para pelaku bisnis di tanah air secara umum tetap terpelihara dalam kondisi yang mudah. Meski aksesibilitas dinilai tetap kondusif, nilai saldo bersih untuk indikator akses kredit perbankan mencatatkan koreksi menjadi sebesar 1,84 persen pada triwulan III 2026, turun dari posisi 2,45 persen yang tercatat pada triwulan II 2026.

Memasuki periode triwulan IV 2026, Bank Indonesia memproyeksikan bahwa aktivitas dan kegiatan dunia usaha secara nasional akan terus mempertahankan tren pertumbuhan yang positif. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk triwulan IV 2026 diprakirakan berada pada tingkat 10,77 persen. Meskipun angka perkiraan tersebut terhitung sedikit lebih rendah ketimbang realisasi SBT triwulan III 2026 yang sebesar 11,46 persen, geliat perekonomian dinilai tetap stabil.

Pertumbuhan kegiatan usaha pada triwulan IV 2026 diperkirakan akan disokong oleh kenaikan kinerja di sejumlah lapangan usaha spesifik. Sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor diproyeksikan akan menjadi salah satu pendorong utama dengan estimasi Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,21 persen. Kenaikan kinerja juga diprediksi terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan dengan SBT sebesar 1,10 persen.

Selain itu, beberapa sektor jasa lainnya juga diprakirakan mengalami peningkatan performa pada triwulan IV 2026. Sektor informasi dan komunikasi diproyeksikan mencatatkan SBT sebesar 0,83 persen, sektor real estat diperkirakan meraih SBT sebesar 0,54 persen, dan sektor jasa perusahaan diproyeksikan membukukan SBT sebesar 0,40 persen.

Peningkatan aktivitas pada sektor perdagangan, transportasi, serta jasa penunjang pada triwulan IV 2026 tersebut berkaitan erat dengan momentum musiman. Datangnya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal serta periode libur akhir tahun diperkirakan bakal menjadi stimulus kuat yang memicu peningkatkan permintaan masyarakat serta menggairahkan aktivitas perdagangan dan jasa transportasi di berbagai wilayah.

Berbeda dengan tren penguatan pada sektor perdagangan dan jasa, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan diproyeksikan akan mengalami penurunan kinerja pada triwulan IV 2026. Bank Indonesia memprakirakan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan akan berada pada kisaran minus 0,58 persen. Penurunan kinerja pada sektor primer ini dipengaruhi oleh faktor masuknya musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi serta hambatan kondisi cuaca yang dinilai kurang mendukung aktivitas budidaya dan panen.

Advertisements

Also Read

Tags