BANYU POS – , JAKARTA — Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks dinilai menarik dicermati setelah kebijakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% pada Oktober ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 49,47 poin atau 0,94% pada level 5.328,36 pada perdagangan Rabu (21/10/2026).
Terpantau, saham-saham big banks yang teraktif diperdagangkan di antaranya BBRI sebanyak 73.537 kali senilai Rp1,3 triliun, kemudian BBCA sebanyak 67.412 kali senilai Rp2,27 triliun, dan BMRI sebanyak 54.360 kali senilai Rp981 miliar.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan di tengah kebijakan suku bunga dan rupiah yang terjaga, serta ditopang oleh musim laporan keuangan pada kuartal III/2026, membuat saham perbankan dengan yield dividen tinggi menarik dicermati.
“Setelah koreksi sejak awal tahun yang cukup dalam, saham Big Banks kini menawarkan yield dividen menarik,” ujarnya, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan data Ajaib Sekuritas pada harga penutupan 21 Oktober 2026, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menawarkan dividend yield tertinggi di antara bank besar, yakni 14,3%. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar 13,4% dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar 11,2%.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memiliki dividend yield lebih rendah, yakni 6,4%, sejalan dengan valuasinya yang masih berada di level premium.
Secara umum, menurut Ratih, keputusan BI mempertahankan BI Rate pada RDG Oktober 2026 turut menjaga ruang bagi pasar saham.
Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5% berpotensi memperkuat stabilitas rupiah melalui peningkatan daya tarik penempatan dana di instrumen moneter domestik.
BI juga mempertahankan suku bunga lending facility sebesar 6,5%.
Kombinasi kebijakan tersebut mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar tanpa memberikan tekanan tambahan yang terlalu besar terhadap likuiditas perbankan dan pertumbuhan ekonomi.
Ratih mengungkapkan, berdasarkan model U-MIDAS Ajaib Research dengan periode pengamatan Juli 2021–Juli 2026, setiap kenaikan BI Rate sebesar 1% berkorelasi dengan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 340–400 poin.
“Dengan BI Rate yang tidak berubah, tekanan tambahan dari kenaikan suku bunga acuan terhadap pasar ekuitas pun dapat dihindari. Stabilitas rupiah juga berpotensi mendukung aliran dana asing ke pasar saham,” terangnya.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai, keputusan BI mempertahankan BI Rate tetapi menaikkan deposit facility, mencerminkan pendekatan pengetatan moneter yang lebih selektif.
Menurutnya, kenaikan suku bunga deposit facility mempersempit koridor suku bunga dari sisi bawah dan meningkatkan imbal hasil penempatan dana perbankan di BI.
Kebijakan ini berpotensi mendorong suku bunga pasar uang jangka pendek sekaligus menopang rupiah, meski efektivitasnya diperkirakan lebih terbatas dibandingkan kenaikan BI Rate secara langsung.
“Untuk pasar saham, sektor perbankan menjadi salah satu yang perlu diperhatikan, terutama bank-bank besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI,” ujarnya.
Rully menambahkan, kenaikan imbal hasil penempatan dana di BI berpotensi mendukung pendapatan bunga perbankan.
Namun, dampak akhirnya terhadap kinerja bank tetap bergantung pada struktur pendanaan, biaya dana serta kemampuan menjaga margin bunga bersih.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya juga mengingatkan bahwa perbankan tetap perlu dicermati dari sisi potensi kenaikan biaya dana dan tekanan terhadap margin bunga.
Bank besar dengan basis dana murah (current account saving account/CASA) yang kuat, seperti BBCA, relatif lebih defensif menghadapi perubahan kondisi suku bunga.
Di luar perbankan, Andrey menilai emiten dengan neraca sehat, arus kas kuat, dan dividen menarik cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Sebaliknya, sektor properti, konstruksi, dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi berpotensi menghadapi tekanan lebih besar apabila biaya pendanaan meningkat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




