BANYU POS PRAYA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sebanyak 23 perusahaan menunda atau membatalkan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sepanjang tahun 2026.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar. Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Agus Firmansyah menuturkan hingga saat ini, sebanyak 38 perusahaan tengah berada dalam proses untuk melakukan IPO.
“Tapi baru ada tujuh yang efektif, delapan perusahaan sedang proses, dan 23 perusahaan menunda,” ucap Agus dalam Media Gathering Pasar Modal Indonesia 2026, di Kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10/2026).
Agus memperkirakan perusahaan-perusahaan tersebut menunda IPO karena mereka melihat tahun ini bukanlah tahun yang bagus untuk melakukan IPO.
“Lebih banyak yang menunda sih. Mereka mungkin melihat kurang pas, atau mungkin perusahaan mereka sendiri belum siap, atau memang mereka melihat kondisi pasarnya,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan pihaknya masih melihat ada potensi IPO pada 2027 mendatang. Menurutnya, apabila kondisi pasar secara global maupun domestik sudah mulai kondusif, dia mencontohkan misalnya banyak potensi dari kelompok kawasan ekonomi khusus dengan pabrik-pabrik manufaktur yang dibangun pasti membutuhkan pendanaan dan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan perbankan.
“Pasar modal bisa menjadi salah satu alternatif, ada potensi di situ,” ucap Jeffrey dalam kesempatan yang sama.
Kemudian, lanjutnya, potensi IPO juga bisa datang dari restrukturisasi yang sedang dilakukan oleh Danantara, yang akan menghasilkan perusahaan-perusahaan yang jumlahnya lebih sedikit tetapi lebih kuat dan lebih sehat.
“Tentu itu juga potensial untuk dicatatkan di bursa, tidak hanya untuk bisa mendapatkan pendanaan tetapi juga untuk meningkatkan reputasi dan transparansi dari kelompok usaha di bawah Danantara. Jadi kami akan melihat potensi-potensi yang ada untuk menambah perusahaan tercatat,” kata dia.
Adapun Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan sampai 30 Oktober 2026 telah tercatat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI, dengan dana yang dihimpun Rp2,16 triliun.
Hingga saat ini, sebanyak 9 perusahaan berada dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Rinciannya, satu perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar, lima perusahaan aset skala menengah atau antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, dan tiga perusahaan aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Sebanyak dua perusahaan berasal dari sektor basic materials, dua perusahaan dari sektor energi, satu perusahaan dari sektor finansial, dan empat perusahaan dari sektor healthcare.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




