
BANYU POS JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk senantiasa hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Komitmen ini berlaku khusus untuk transaksi di pasar luar negeri (offshore) sepanjang periode libur panjang Hari Raya Idulfitri 2026, menjamin ketahanan mata uang nasional di tengah gejolak global.
Langkah strategis ini, sebagaimana dijelaskan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, merupakan wujud mitigasi dan antisipasi otoritas moneter terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus memicu lonjakan volatilitas signifikan di pasar keuangan global. Destry menekankan pentingnya intervensi BI mengingat pergerakan arus modal dan fluktuasi mata uang dunia tidak serta-merta berhenti meskipun pasar keuangan domestik memasuki masa libur panjang Lebaran.
“Perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan meskipun pasar keuangan domestik ditutup selama libur Lebaran. Oleh karena itu, fluktuasinya berpotensi berdampak langsung pada stabilitas ekonomi Indonesia,” ungkap Destry dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026). Ini menegaskan urgensi operasi moneter BI untuk meredam tekanan eksternal dan menjaga nilai tukar rupiah.
Dengan absennya transaksi di pasar spot domestik (inshore), pembentukan harga rupiah selama periode libur sangat bergantung pada transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Situasi ini menjadikan kehadiran bank sentral krusial untuk mencegah potensi pelemahan rupiah yang tidak mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Untuk itu, Kantor Perwakilan BI di New York akan secara aktif memantau transaksi NDF di pasar offshore dan siap melakukan intervensi jika diperlukan guna menjaga keseimbangan pasar global.
Destry menegaskan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneternya demi memperkuat ketahanan eksternal rupiah terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Ini termasuk langkah-langkah penyesuaian kebijakan yang konsisten untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional secara menyeluruh.
Sebelumnya, dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Maret 2026 pada Selasa (17/3/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo telah mengidentifikasi adanya pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Perry menjelaskan bahwa per 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp16.985 per dolar AS, menunjukkan pelemahan sebesar 1,29% secara point-to-point dibandingkan akhir Februari 2026.
Tekanan terhadap mata uang nasional ini, menurut Perry, merupakan bagian dari tren pelemahan yang juga dialami oleh berbagai mata uang negara lain di luar dolar AS secara global. “Memburuknya kondisi geopolitik global akibat Perang Timur Tengah telah berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang dan memicu arus keluar modal asing (capital outflow) dari berbagai negara emerging market, termasuk Indonesia,” terang Perry, menggarisbawahi tantangan eksternal yang dihadapi.
Penyesuaian Jadwal Operasional BI Selama Libur Lebaran
Bersamaan dengan komitmen intervensi offshore, Bank Indonesia telah mengumumkan penyesuaian signifikan pada jadwal operasionalnya selama periode Hari Raya Idulfitri 1447 H/Tahun 2026. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penyesuaian ini berlaku mulai tanggal 18 hingga 24 Maret 2026, termasuk untuk operasi moneter guna stabilisasi nilai tukar rupiah.
Selama periode tersebut, “Seluruh kegiatan transaksi operasi moneter rupiah ditiadakan,” kata Denny, Selasa (10/3/2026). Demikian pula, operasi moneter valuta asing (valas) juga akan dihentikan, yang berarti kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dan Kurs Acuan Non-USD/IDR tidak akan diterbitkan. Sebagai gantinya, Bank Indonesia akan menggunakan referensi kurs dari hari kerja terakhir.
Tidak hanya itu, sejumlah layanan penting BI juga akan disesuaikan. Acuan suku bunga seperti INDONIA, Compounded INDONIA, dan INDONIA Index tidak akan terbit. Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS), serta Bank Indonesia Electronic Trading Platform (BI-ETP) juga akan non-aktif. Layanan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pun ditiadakan, dengan penyelesaian warkat debit di Zona 4 yang diserahkan pada 17 Maret 2026 akan dituntaskan pada 25 Maret 2026.
Seluruh kegiatan layanan kas juga ditiadakan. Namun, untuk menjaga kelancaran transaksi digital, layanan Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST) tetap beroperasi penuh selama masa libur. “Seluruh kegiatan operasional Bank Indonesia akan kembali berjalan normal sepenuhnya pada Rabu, 25 Maret 2026,” tutup Denny, seraya menambahkan bahwa operasional institusi sektor keuangan lainnya akan menjadi pertimbangan dan kewenangan masing-masing institusi.
Menanggapi penyesuaian operasional BI, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, memperingatkan potensi risiko. Menurut Josua, penghentian operasi moneter domestik mulai 18 hingga 24 Maret 2026 berpotensi menyebabkan penyesuaian nilai tukar terakumulasi di pasar domestik saat operasional kembali normal pada 25 Maret 2026. Ini bisa menciptakan lonjakan yang signifikan.
“Apabila terjadi kejutan atau gejolak dari pasar global selama masa libur, penyesuaian nilai tukar di pasar domestik berisiko muncul sekaligus saat pasar dibuka kembali, sehingga peluang lonjakan kurs setelah Lebaran menjadi lebih besar,” jelas Josua kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika pasar global selama periode libur panjang.




