
BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan signifikan, tertekan oleh dominasi sentimen negatif dari arena eksternal yang memengaruhi dinamika pergerakan pasar saham domestik.
Pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2026), IHSG tercatat melemah 1,89% dan bertengger di level 7.164,09. Penurunan ini memperpanjang koreksi indeks secara akumulatif, di mana secara year to date (ytd) IHSG telah terkoreksi sebesar 17,15% sejak awal tahun. Angka ini dengan jelas mencerminkan berlanjutnya sentimen pesimis yang masih menyelimuti prospek pasar modal Indonesia.
Menurut Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, koreksi tajam pada IHSG kali ini merupakan hasil dari kombinasi kompleks antara faktor eksternal dan internal. Interaksi keduanya telah menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi di tengah-tengah gejolak pasar investasi global dan regional.
“Dalam situasi ini, eskalasi konflik geopolitik yang bergejolak di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran, menjadi sentimen utama yang terus menekan pasar saham global maupun regional,” jelas Harry. Ia menambahkan, ketegangan yang memanas ini sontak memicu kekhawatiran meluas mengenai potensi gangguan terhadap pasokan energi dan kelancaran rantai logistik di seluruh dunia.
Wall Street Turun, Investor Waspadai Konflik Iran dan Ketidakpastian Hormuz
Selain ancaman geopolitik, sentimen negatif juga diperparah oleh ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Konflik di Timur Tengah telah memicu fluktuasi drastis pada harga komoditas global, yang pada gilirannya membuat prediksi mengenai langkah kebijakan bank sentral AS semakin sulit untuk diuraikan.
“Para pelaku pasar semakin khawatir bahwa inflasi global dapat kembali melonjak, sehingga memaksa suku bunga tinggi untuk bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, atau yang sering disebut sebagai fase higher for longer,” imbuh Harry pada Kamis (26/3), menjelaskan kekhawatiran investor mengenai masa depan suku bunga.
Tekanan terhadap kinerja IHSG juga datang dari revisi outlook kredit dan laporan terkini yang dirilis oleh lembaga pemeringkat Moody’s. Laporan tersebut turut memberikan dampak negatif dan menekan sejumlah emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain itu, secara historis, bulan Maret seringkali menjadi periode di mana IHSG mengalami koreksi atau fase konsolidasi, sebelum akhirnya memasuki periode kuartal baru.
Dalam jangka pendek, risiko tekanan di pasar saham dipandang masih cukup besar, mengingat tingkat volatilitas global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kendati demikian, Harry Su melihat peluang bagi IHSG untuk melakukan rebound tetap terbuka lebar, terutama jika rilis data ekonomi domestik menunjukkan sinyal ketahanan yang kuat dan adanya intervensi kebijakan yang strategis dari Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan tren pelemahan yang sedang berlangsung saat ini, Harry memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi menguji level support psikologis di kisaran 7.150 – 7.200. Prediksi ini diperkirakan akan terjadi pada akhir kuartal I-2026 atau menjelang akhir bulan Maret nanti.
“Optimisme jangka panjang bagi IHSG masih tetap ada. Beberapa analis bahkan memproyeksikan bahwa target tahunan IHSG masih bisa mencapai area yang lebih tinggi, terutama jika kondisi makroekonomi domestik dan global menunjukkan perbaikan signifikan pasca-Lebaran,” ungkap Harry, memberikan pandangan positif untuk prospek pasar modal ke depan.
Di tengah kondisi volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk menerapkan pendekatan yang lebih selektif dan memprioritaskan manajemen risiko dalam setiap keputusan investasi. Strategi yang dianjurkan mencakup diversifikasi portofolio ke aset-aset yang lebih stabil, menghindari pengambilan keputusan impulsif yang didasari oleh kepanikan pasar (panic selling), serta berfokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat dan rekam jejak dividen yang stabil.
Kripto Berbalik Melemah, Ini Proyeksi Harga Pekan Depan
Menyoroti sektor-seektor yang relatif tangguh di tengah ketidakpastian pasar, Harry Su memberikan panduan penting bagi para investor.
“Saham-saham dari sektor konsumer primer, yang fokus pada kebutuhan rumah tangga dan makanan, cenderung lebih tahan banting terhadap krisis ekonomi dan dapat menjadi opsi menarik bagi investor. Contohnya adalah emiten seperti ICBP dan UNVR,” terang Harry. Ia melanjutkan, “Selain itu, saham-saham blue chip di sektor perbankan juga sangat patut dipertimbangkan, seperti BBCA dan BBRI, mengingat emiten-emiten tersebut memiliki rasio kecukupan modal yang kuat dan kapitalisasi pasar yang besar.”
Pilihan lain yang tak kalah menarik adalah saham di sektor telekomunikasi, contohnya TLKM. Sektor ini memiliki keunggulan karena kebutuhan akan data internet cenderung tetap stabil, bahkan ketika kondisi ekonomi global sedang bergejolak, menjadikannya pilihan investasi yang relatif aman.
Sebaliknya, Harry Su menyarankan investor untuk cermat dan menghindari saham-saham dengan rasio utang yang tinggi, karena jenis saham ini sangat rentan terhadap perubahan suku bunga. Selain itu, saham-saham lapis ketiga (small-cap) yang menunjukkan volatilitas ekstrem tanpa dukungan fundamental yang jelas juga sebaiknya dihindari demi melindungi portofolio investasi.



