BANYU POS – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Oktober 2026 yang akan diumumkan Rabu (21/10/2026) esok.
Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) Irman Faiz memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI-Rate dari posisi saat ini 5,75% ke level 6,00% bulan ini, dengan potensi kenaikan lanjutan hingga menyentuh 6,25% pada akhir 2026. Menurutnya, wacana reklasifikasi indeks MSCI telah menambah risiko arus modal keluar (capital outflow) di tengah masih besarnya ketidakpastian pasar keuangan global.
“Walaupun keputusan final belum diambil, investor dapat mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi,” jelas Irman kepada Bisnis, Selasa (20/10/2026).
Lebih lanjut, di tengah tingginya imbal hasil (yield) global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan, kenaikan suku bunga dirasa untuk menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus memperkuat kembali kepercayaan pasar. Oleh karena itu, BI dinilai memiliki alasan kuat untuk bertindak antisipatif (pre-emptive) dalam RDG Oktober ini.
Meski demikian, Irman mengingatkan bahwa ruang kenaikan suku bunga perlu terukur dan harus tetap dibarengi dengan pelonggaran atau dukungan kebijakan makroprudensial, khususnya bagi sektor-sektor produktif.
“Tekanan rupiah yang berkepanjangan juga berisiko meningkatkan biaya impor dan pembayaran utang valas [valuta asing], yang pada akhirnya membebani pertumbuhan,” tekannya.
Senada Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memproyeksikan BI akan mengambil menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga tinggi ini dinilai penting untuk guna memberikan kepastian kepada pelaku pasar keuangan domestik yang tengah dilanda gejolak pasca wacana MSCI.
“Dan menjaga spread imbal hasil aset Rupiah yang menarik dibanding negara-negara emerging market lain,” ujar David kepada Bisnis, Selasa (20/10/2026).
Dia menggarisbawahi bahwa langkah pre-emptive BI sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas moneter dari sentimen global. Pasalnya, pergerakan dana asing saat ini masih dibayangi oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve alias The Fed masih akan kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.
Selain tekanan suku bunga global, tantangan lain juga datang dari ekspektasi inflasi yang diproyeksi masih akan tetap tinggi. Risiko imported inflation dan gangguan pasokan tersebut utamanya dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dampak fenomena iklim El Nino.




