BANYU POS – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah dari pasar sekunder senilai Rp135 triliun sepanjang 2026.
Pada taklimat media yang diselenggarakan Jumat (23/10/2026), Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea menyebut data itu berdasarkan realisasi sejak awal tahun sampai dengan Oktober 2026 atau year-to-date (YtD).
“Yang di bulan Oktober itu angkanya sekitar Rp13 triliun [dari] pasar sekunder,” ujar Erwin, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Erwin menyatakan bahwa pembelian SBN pemerintah oleh BI dilakukan dalam dua konteks. Pertama, pembelian oleh bank sentral dilakukan ketika terjadi aliran modal asing keluar alias outflow yang masif.
“Itu kan second round-nya adalah nilai tukar. Jadi kami dimungkinkan untuk pembelian untuk men-defend nilai tukar,” paparnya.
Kedua, pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan lalu untuk menginjeksi likuiditas di pasar berdasarkan kebutuhan pasar sesuai asesmen bank sentral. Sebaliknya, BI juga dimungkinkan untuk menjual apabila harus melakukan kontraksi.
Dalam beberapa hari belakangan, Erwin mengakui bahwa terjadi arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia. Salah satu faktornya adalah respons terhadap usulan downgrade pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pekan lalu.
Guna menarik kembali modal asing, BI juga memperkuat strategi operasi moneter dengan insentif Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) lindung nilai alias hedging. Insentif ini berupa penambahan diskon premi dari semula 25% menjadi 40% untuk tenor 40%, sedangkan dari 30% ke 45% untuk tenor 12 bulan.
“Apabila [investor] masuk ke pasar mereka jual di spot, kemudian cover risiko nilai tukarnya dengan DNDF, premi swap-nya sebagai sesuatu yang mereka harus bayar sebagai biaya hedging, itu insentif yang kami perkuat,” terang Erwin.
Strategi ini diharapkan meningkatkan daya tarik aset rupiah baik SBN, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), obligasi korporasi, saham, investasi asing langsung, maupun pinjaman luar negeri bank.
Berdasarkan data BI, sejak insentif lindung nilai diluncurkan Juni 2026, aliran modal asing yang berhasil ditarik masuk mencapai hampir Rp138 triliun. Perinciannya, inflow ke SRBI hampir Rp85 triliun sedangkan ke SBN Rp53 triliun.
“Jadi kalau investor itu mau masuk ke pasar aset keuangan Indonesia, apapun pilihannya, mereka jual dulu valasnya untuk dapat rupiah, kemudian beli asetnya, kemudian untuk risiko nilai tukarnya melalui bank, mereka bisa cover risiko nilai tukarnya dengan DNDF ke kami dengan insentif 40% sampai 45%,” terangnya.




